Austin-Sparks.net

Injil yang Mulia

oleh T. Austin-Sparks

Bab 4 – Kebutuhan Tuhan untuk Suatu Umat ‘Sion’

“Biarlah gunung Sion bersukacita; biarlah anak-anak perempuan Yehuda bersorak-sorak oleh karena penghukuman-Mu! Kelilingilah Sion dan edarilah dia, hitunglah menaranya, perhatikanlah temboknya, jalanilah puri-purinya, supaya kamu dapat menceritakannya kepada angkatan yang kemudian: Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!” (Mazmur 48:11-14).

“Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.” (Mazmur 48:2).

“Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.” (Mazmur 84:7).

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah Tuhan.” Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku Tuhan, untuk bersyukur kepada nama Tuhan sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.” (Mazmur 122:1-5).

“Ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku Tuhan, sesuai dengan peraturan bagi Israel,” atau, “sebagai kesaksian bagi Israel.” Kami telah sering menunjukkan bahwa, di dalam representasi Perjanjian Lama tentang pemikiran Ilahi, Sion adalah apa yang sepenuhnya mengungkapkan pikiran Allah bagi umat-Nya. Di Sionlah di mana ditemukan semua ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik suatu umat yang sepenuhnya sesuai dengan pikiran Tuhan. Sion adalah sebuah kata yang mewakili. Sekedar masalah teknis, kami dapat menunjukkan bahwa di beberapa tempat di dalam Kitab Suci dinyatakan bahwa rumah Tuhan ada di sana, namun sebenarnya bait suci itu sama sekali tidak berada di Sion, melainkan di Moria. Namun apa yang ditunjukkan oleh fakta itu adalah ini, bahwa Sion benar-benar melambangkan seluruh pikiran Tuhan mengenai rumah-Nya. Moria berada di Yerusalem tepat dan lebih besar; rumah ada di sana; Jemaat ada di sana, jika saudara berkenan. Namun di Sion, Jemaat sesuai dengan apa yang Tuhan maksudkan dalam pemikirannya. Saya bertanya-tanya apakah saudara memahami signifikannya dari hal itu? Dilihat secara keseluruhan, Jemaat dalam dirinya sendiri, tidak selalu sesuai dengan maksud Tuhan. Siapakah, yang melihat pada Jemaat hari ini secara keseluruhan, yang akan mengatakan bahwa Jemaat hampir sama dengan wahyu yang dinyatakan mengenainya di dalam Firman Allah? Siapa pun yang akan mengatakan itu, tidak mengetahui banyak tentang wahyu Allah tentang Jemaat. Namun Allah tetap berpegang teguh pada pemikiran-Nya yang penuh tentang Jemaat. Ia belum menyesuaikan diri-Nya sendiri dengan situasi yang sebenarnya terdapatkan, dan menerimanya. Ia masih berpegang pada semua yang Ia pikirkan dan kehendaki, dan di dalam Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus, Ia memiliki pemikiran penuh itu. Dan kemudian Ia bekerja melalui Roh-Nya untuk mengumpulkan kepada Anak-Nya suatu umat, yang tidak berbeda dari Jemaat secara keseluruhan, bukan suatu badan yang terpisah dalam kenyataannya, tetapi suatu perkumpulan perwakilan, yang benar-benar memuaskan Dia setidaknya dengan lebih penuhnya sehubungan dengan pemikiran penuh-Nya tentang Jemaat; dan itulah yang dimaksudkan dengan Sion. Itulah poin yang kita capai pada akhir meditasi kami sebelumnya, dan sekarang kita telah sampai pada inti pokok bahasan kita.

Itulah apa yang dikehendaki Allah – suatu ‘Sion’. Ini adalah Yerusalem, namun sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan dan bukan sebagaimana adanya sekarang. Oh, kami bisa mengambil seluruh isi Kitab Suci untuk membuktikan hal itu; tetapi saudara hanya perlu melihat kepada bagian Kitab Suci yang membahas tentang kembalinya sisa umat dari pembuangan, dan saudara akan melihatnya di sana. Ini adalah suatu pengembalian, bukan ke Yerusalem tetapi ke Sion, setiap saat. “Dan orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai” (Yesaya 35:10); dan Tuhan berfirman, “Aku akan kembali ke Sion” (Zakharia 8:3). Ya, “Aku kembali lagi kepada Yerusalem” (Zakharia 1:16), namun, “Aku akan kembali ke Sion,” sebab Sion adalah apa Yerusalem itu seharusnya di dalam pikiran-Nya. “Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar dan dengan kehangatan amarah yang besar” (Zakharia 8:2). Sion adalah keseluruhan pikiran Allah tentang bagaimana seharusnya umat-Nya, dan ini merupakan titik fokus dari kepentingan Ilahi. Di dalam Perjanjian Baru ada terdapatkan penafsiran rohani mengenai hal ini, yang merupakan padanan rohani dari penafsiran sejarah. “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi” (Ibrani 12:22). “Kamu sudah datang;” bukan ‘kamu akan datang, kamu sedang dalam perjalanan, menuju Sion,’ apa pun maksud saudara ketika saudara menyanyikan ‘Kami sedang berbaris menuju Sion’! Kami sudah datang ke Sion. Itulah pemikiran surat Ibrani – bahwa kita sudah datang kepada sesuatu yang di sorga adalah mutlak, penuh, final. Kita telah meninggalkan yang sebagiannya, kita telah meninggalkan figur-figurnya, tipe-tipenya, gambar-gambarnya dari Perjanjian Lama, yang tidak satupun mencapai kesempurnaan dan finalitas; mereka hanya memimpin kita sejauh ini dan meninggalkan kita di sana, namun sekarang kita telah sampai pada akhir dari semuanya. “Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibrani 1:2), dan kami sudah datang ke Sion. Di dalam Anak-Nya, kita sudah datang ke Sion – pemikiran Allah yang penuh di dalam Kristus. Oleh karena itu, di dalam penafsiran Perjanjian Baru, ini adalah begini – Kristus, perwujudan dari pemikiran Allah yang penuh mengenai Jemaat, dan perkumpulan kepada-Nya mereka yang memuaskan pemikiran penuh itu , perkumpulan suatu umat untuk menjadi umat ‘Sion.’ Nah, itulah dasar dari segalanya. Di sekeliling itu berkumpul banyak hal-hal; jika saudara ingin tahu seberapa banyaknya, duduklah dengan sebuah konkordansi dan carilah kata ‘Sion’. Itu akan memberi saudara tugas yang panjang. Sion adalah pemikiran Allah yang sangat komprehensif, dengan banyak aspek-aspek.

Sion, Sebuah Kesaksian Bagi Israel

Kita sampai pada salah satu hal utama yang berhubungan dengan keinginan Allah ini. Hal ini terdapatkan di sini di dalam Mazmur 122. “Ke mana suku-suku berziarah … sebagai kesaksian bagi Israel.” Suatu umat di Sion sebagai kesaksian, bukan kepada mereka yang belum diselamatkan dalam kasus ini, melainkan kepada Israel. Ini akan melampaui Israel hingga kepada mereka yang belum diselamatkan, namun ini adalah metode Allah – dari pusat ke lingkaran dan seterusnya; Sion, Israel, bangsa-bangsa. Namun di sini untuk saat ini kita terbatas pada jangkauan pertama dari kesaksian tersebut, dari Sion kepada Israel. Sekarang, apa yang benar dalam prinsip dibuktikan dengan mengingat bahwa itu adalah suatu peraturan yang ditetapkan oleh Allah. Kita kembali kepada awalnya ketika Israel dibentuk sebagai sebuah bangsa. Saudara hanya perlu melihat kepada satu bagian di dalam kitab Ulangan – “Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat Tuhan, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa” (Ulangan 16:16). Tentu saja saudara akan salah, jika saudara membaca bagian dalam Mazmur 122 ini bahwa seluruh Israel pergi ke Yerusalem tiga kali dalam setahun, atau bahkan sekali dalam setahun. Pertama-tama, mereka tidak bisa semuanya masuk ke Yerusalem; mereka tidak bisa mendekati Yerusalem sama sekali; tapi mereka pergi secara representatif. Setiap orang laki-laki pergi tiga kali setahun; Israel hadir dalam perwakilan, dan ketika mereka datang ke Sion, ada beberapa hal yang terjadi.

Tentu saja mereka datang kepada pembaharuan yang luar biasa akan realisasi tentang kasih Allah. Bagaimana? Imam Besar ada di sana dengan nama suku-suku di dadanya di baju-zirah. Mereka berada di hadirat Tuhan dalam kasih imam besar – kasih Allah di dalam Kristus yang menyandang mereka semua di dalam hatinya. Di pundaknya, sekali lagi, nama-nama mereka disandang – kekuatan Allah di dalam Kristus yang menopang mereka di sepanjang hidup mereka. Mereka datang kepada pemahaman baru akan kasih dan kekuatan Allah atas nama mereka di dalam diri imam besar.

Yah, saya tidak berani menetap untuk menceritakan semua hal yang terjadi ketika mereka pergi ke Yerusalem. Kita merasakan sedikit hal itu ketika dari jarak jauh di bumi, tempat-tempat yang sulit, dan tempat-tempat yang dingin dan sepi secara rohani, kita berkumpul bersama seperti ini dan menyentuh kasih dan kekuatan Allah, dan merasakan kembali kesatuan umat Tuhan. Ketika kita terpisah dan merasa bahwa kita adalah satu-satunya orang Kristen di bumi ini – kadang-kadang saudara merasa seperti Elia, “Hanya aku seorang dirilah yang masih hidup” (1 Raja-Raja 19:14) – kita berkumpul bersama, dan segala sesuatu yang tidak benar hilang, dan kebenaran yang sebenarnya diperkuat, dan semuanya baik-baik saja. Mereka pergi tiga kali dalam setahun dalam perwakilan, dan mereka membawa kembali kepada seluruh Israel kebaikan Sion – sebuah kesaksian bagi Israel.

Maksud saya sekarang hanyalah ini – mereka adalah perkumpulan representatif di Sion; Sion adalah representatif dalam hal kesaksian. Bisakah saya menjelaskannya secara lebih eksplisit lagi? Sebuah perkumpulan datang ke tempat yang diwakili oleh Sion, dan perkumpulan itu memiliki sebuah kesaksian bagi seluruh umat Tuhan. Ketika saudara memahami hal itu, saudara dapat melihat salah satu cara Allah yang berdaulat. Saya bertanya-tanya apakah saudara pernah memikirkan tentang hal-hal yang terjadi di dalam Perjanjian Baru. Saudara mulai dengan hari Pentakosta, dan periode berikutnya, betapapun lamanya atau singkatnya, ketika segala sesuatunya benar-benar berada dalam kepenuhan, sangat memuaskan dan memuliakan kepada Tuhan; Ia memiliki pemikiran-Nya diungkapkan secara luas pada hari-hari, bulan-bulan pertama itu, atau, mungkin juga, bahkan beberapa tahun. Tapi kemudian segalanya mulai berubah. Saudara mendapati suhunya turun, standarnya diturunkan, campurannya masuk; dipandang perlu untuk mengoreksi banyak hal yang salah dalam Jemaat; hal-hal tidak lagi sama. Dan nampaknya proses itu terus berjalan dan berkembang. Namun apa yang Tuhan lakukan mengenai hal itu? Apakah Ia berkata, ‘Sungguh luar biasa selama hal ini berlangsung, namun mereka tidak dapat bertahan menghadapi hal ini, mereka tidak dapat memenuhi standar ini, jelas sekali bahwa mereka tidak akan mampu mempertahankan tingkatan semulanya, maka Aku harus menyesuaikan diri-Ku dengan situasinya dan menerima tingkat yang lebih rendah ini dan mencoba untuk merasa puas dengannya?’ Apakah Tuhan melakukan itu? Ia tidak pernah melakukannya. Hal yang mengesankan dan luar biasa adalah bahwa Tuhan mulai memberikan wahyu yang lebih lengkap dan lebih luas – ya, kepada Jemaat yang tidak lagi seperti dulunya. Saudara sampai pada surat-surat penutup dari kehidupan Rasul Paulus ini. Siapakah yang dapat tahan dengan isinya? Lihatlah pada kondisinya, kelemahannya, kekurangannya, keterbatasannya dari umat Tuhan, namun Ia terus berlanjut seperti ini, hanya menumpuknya saja. Ia tidak mengakomodasi diri-Nya sendiri kepada kekecilan, Ia tidak menerima keadaannya, Ia membalas dengan lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi. Dan apa intinya? Jika mereka tidak mau atau tidak semuanya bisa memilikinya, beberapa orang akan memilikinya, dan melalui pangkal itu, perkumpulan yang representatif itu, Ia akan menjaga pelita kesaksian penuh tetap menyala. Bahkan ketika bayang-bayang menyusup ke dalam dan menutupi Jemaat, Ia akan mempertahankan kesaksian yang penuh, meskipun ini hanya di dalam beberapa orang saja.

Dan di situlah saudara berada dalam pasal pertama kitab Wahyu. Jemaat secara keseluruhan jauh dari keadaan semulanya dan jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Allah dan apa yang Allah telah nyatakan sebagai pikiran-Nya, namun Ia tidak memaafkan, mengakomodasi, dan menerima. Ia segera kembali dengan wahyu penuh dan memanggil untuk pangkal-pangkal dari semua jemaat-jemaat. Begitulah Allah bereaksi. Mengapa? Sebagai kesaksian bagi Israel, sebuah representasi bagi seluruh Israel. Oh, pahamilah itu. Sekalipun saudara tidak memahami sepenuhnya apa yang Tuhan kehendaki, saudaralah yang memutuskan apakah saudara akan bergabung dengan yang umum, nominal, biasa, atau apakah saudara akan menjadi anggota Sion. Itu adalah poin yang mungkin harus kami tekankan lebih lanjut sebelum kami selesai. Tapi bagaimana pun juga, ini tetap ada – apa yang dikehendaki oleh Allah adalah apa yang dimaksud dengan Sion ini, yaitu, perkumpulan perwakilan yang memiliki kesaksian yang lebih penuh bagi seluruh Israel, dan yang berada dalam kebaikannya atas nama orang lain. Itulah cara Tuhan berupaya untuk memenuhi kebutuhan yang besar, dengan memiliki di antara mereka beberapa orang yang memuaskan Dia dan mengenal Dia dalam cara yang lebih penuh ini.

Kesaksian tentang Kedaulatan Absolut Tuhan

“Ke mana suku-suku berziarah sebagai kesaksian bagi Israel.” Kesaksian apa? Apa kesaksian itu? Nah, jawabannya adalah Sion. Itu adalah kesaksian itu sendiri. Tapi apakah Sion itu? Nah, lihatlah pada sejarah Sion dan saudara akan mendapatkan penjelasan mengenai apa kesaksian itu. Pertama-tama, kesaksian itu adalah tentang kedaulatan mutlak Tuhan, dan, dalam pengertian kita sekarang, Tuhan Yesus. Di sanalah kesaksian dimulai. Dari situlah mengalir segala kesaksian – kedaulatan mutlak Tuhan Yesus. Sion adalah “kota Raja Besar” (Mazmur 48:2). Salomo tinggal di Sion, Daud tinggal di Sion. Lihatlah pada sejarahnya secara singkat. Mungkin saudara ingat bahwa penyebutan pertama tentang Yerusalem dalam Kejadian 14:18 berkaitan dengan Melkisedek, yang merupakan raja Salem – itulah nama pertama dari Yerusalem. Melkisedek adalah Imam Allah yang Maha Tinggi, tapi ia adalah raja Salem. Penyebutan pertama tentang Sion atau Yerusalem itu sendiri berkaitan dengan kedudukan raja dalam kaitannya dengan imamat.

Kemudian kami lanjutkan, dan kita menemukan bahwa Sion adalah tempat perlindungan atau kubu pertahanan yang kuat Yerusalem di tangan orang Yebus. Kota itu mula-mula disebut Yebus, kubu pertahanan orang Yebus, dan itu berada di dalam tangan orang Yebus di sepanjang masa Hakim-Hakim dan masa pemerintahan Saul dan masa pemerintahan Daud di Hebron. Tetapi ketika seluruh Israel datang ke Hebron untuk mengangkat Daud menjadi raja dan ia mendapat kedudukan ganda sebagai raja, maka ia pergi ke Yebus. Ia melontarkan tantangannya kepada para pahlawannya, “Siapa lebih dahulu memukul kalah orang Yebus, ia akan menjadi kepala dan pemimpin” (1 Tawarikh 11:6), dan Yoab berhasil menerobos; namun kubu pertahanan tersebut merupakan kubu pertahanan yang dianggap benar-benar tidak dapat ditembus oleh orang Yebus, sebab mereka berkata, ‘Wah, cukuplah orang buta dan orang lumpuh untuk mempertahankannya!’ Sekarang, itu bukanlah sekedar suatu kisah, ada sesuatu yang tercakup di dalam kisah itu yang memiliki signifikan yang sangat besar di mana saudara dan saya bersangkutan. Percayalah, penetapan Tuhan Yesus dalam kedaulatan mutlak bukanlah main-main. Ambillah dalam kasus-Nya sendiri. Sungguh luar biasa untuk mendapatkan kekuasaan mutlak atas semua kekuatan jahat! Betapa kuatnya cengkeraman kekuatan jahat atas tempat perlindungan jiwa manusia, atas dunia ini – cengkeraman yang sedemikian kuatnya sehingga membuat musuh merasa bahwa posisinya tidak dapat ditembus; dan kita tahu bahwa ada sesuatu di dalamnya. Pernahkah saudara dikalahkan oleh kubu pertahanan musuh di dalam hidup? Kita semua pernah menghadapi situasi-situasi di dalam kehidupan individu di mana Iblis memiliki pembelian yang sedemikian rupanya sehingga diperlukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kekuatan atau kecerdikan manusia untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah pembebasan jiwa itu, pendirian ketuhanan Kristus di dalam hidup itu atau di tempat itu, bukanlah hal yang kecil.

Tapi dengarkan. Mari kita beralih dari yang objektif kepada diri kita sendiri; dan inilah intinya untuk saat ini. Kita dapat menyanyikan himne kita, ‘Mahkotai Dia, Mahkotai Dia,’ kita dapat memberitakan dengan kekuatan dan semangat bahwa Yesus adalah Tuhan, namun justru pada titik itulah bahwa semua peperangan kita berkobar. Apakah saudara tidak pernah terkurung dalam pertikaian dengan Tuhan, dalam situasi di dalam hidup saudara sendiri di mana satu-satunya persoalan adalah ini – Apakah Ia akan menjadi Tuhan dalam hal ini? Apakah saudara tidak pernah menghadapi situasi-situasi dan keadaan-keadaan di mana segalanya tampaknya seolah-olah Iblis berkuasa dan telah memperoleh kekuasan dan memegangnya – seolah-olah ia adalah tuhan dan tuan? Bukankah kita terus-menerus menghadapi hal-hal seperti itu, di mana kelihatannya seolah-olah iblislah dan bukan Yesus yang menjadi tuhan? Hal ini datang langsung ke dalam kehidupan rohani kita sendiri sebagai ujian iman yang luar biasa. Saya sedang memikirkan tentang pengalaman-pengalaman yang ke dalamnya umat ‘Sion’ di bawa masuk, yang bukan merupakan pengalaman-pengalaman biasa dalam kehidupan orang Kristen, bukan godaan-godaan dan penganiayaan-penganiayaan serta kesulitan-kesulitan yang biasa terjadi dari menjadi orang Kristen, melainkan situasi-situasi yang jauh lebih rohani dan melibatkan secara mendalam, dan terkadang iman mereka diuji tepat pada pertanyaan ini – Apakah Yesus itu Tuhan? Lihatlah pada situasinya, lihatlah pada kondisinya, lihatlah pada kekuatan-kekuatan yang nampaknya memegang kendali! Apakah Yesus Tuhan? Saya harap saya tidak memalukan siapa pun. Saudara mungkin belum pernah mengalami pengalaman itu. Baiklah, jangan tersinggung dan jangan khawatir tentang hal itu. Namun ada beberapa orang yang mengetahui apa yang sedang saya bicarakan, yang pernah mengalami pusaran pencobaan dan ujian rohani yang sedemikian rupanya sehingga mempertanyakan masalah tentang apakah Tuhan benar-benar Tuhan setelah semuanya. Jauh di lubuk hati kita, karena iman kita, kita mempercayainya dan kita berpegang teguh padanya, namun kita banyak dibingungkan dalam hal ini. Kita tidak melewati ini dengan mudah. Demikian pula halnya dengan Sion. Ketuhanan Kristus hanya bisa ditegakkan dengan biaya yang sangat besar. Hanya melalui konflik, pencobaan dan ujian yang hebat bahwa sauara dapat mencapai tempat di mana di dalam hati saudara sendiri Ia adalah Tuhan; tetapi ketika saudara melewatinya, oh, sesuatu yang luar biasa telah terjadi dan saudara berada dalam posisi di mana saudara mengenal Tuhan dengan cara yang tidak biasa dan umum, dan saudara memiliki kesaksian bagi umat yang akan melalui pencobaan yang serupa, dan saudara dapat membantu mereka sebab saudara telah berjuang melalui konflik-konflik yang hebat tentang iman mengenai ketuhanan Kristus. Bukankah itu menjelaskan mengapa sebagian dari saudara mengalami pengalaman yang luar biasa seperti itu? Saudara melihat pada orang-orang Kristen lainnya dan saudara melihat mereka melewatinya dengan relatif mudah; mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan atau apa yang mereka pikir seharusnya mereka dapatkan, namun bagi saudara segalanya adalah masalah konflik, tidak ada yang datang dengan mudah sama sekali. Pengalaman tersebut dapat dijelaskan dengan hal ini, bahwa Tuhan telah meletakkan tangan-Nya ke atas saudara, dengan maksud untuk memasukkan ke dalam hidup saudara sesuatu dari ketuhanan-Nya, dan memasukkan saudara ke dalam ketuhanan itu, dengan cara yang akan membuat saudara menjadi bejana dan hamba yang sangat berguna bagi-Nya. Beberapa dari saudara telah mengalaminya dan mengetahui bahwa hal ini benar; beberapa dari saudara mungkin sedang mengalaminya sekarang.

Yesaya, nabi besar pemulihan, nabi besar Sion sebagai masalah utamanya, melewati beberapa ujian yang hebat, dan keluarganya ikut merasakan pengalamannya, dan ia memberi anak-anaknya nama-nama yang mengungkapkan pengalamannya yang mendalam. “Sesungguhnya, aku dan anak-anak yang telah diberikan Tuhan kepadaku adalah tanda dan alamat di antara orang Israel” (sebagai kesaksian) (Yesaya 8:18). Keluarganya itu sendiri dilanda pengalaman yang mendalam dan mengerikan yang dialaminya, karena ia adalah seorang nabi, bukan bagi bangsa-bangsa saja, namun secara khususnya bagi Sion. Saudara melihat tempat Sion di bagian kedua dari nubuat-nubuatnya. Hal ini sangat benar, bahwa Sion – yaitu, perkumpulan yang paling berharga bagi Tuhan dalam mewakili pikiran-Nya – harus datang ke tempat di mana kedaulatan Tuhan adalah sesuatu yang ditegakkan atas dasar yang sangat kokoh. Ini bukanlah doktrin, ajaran, teori, fakta sejarah, bahwa Yesus naik ke sebelah kanan Allah: bukan sesuatu yang kita pelajari dari sebuah buku: melainkan sesuatu yang telah ditanamkan ke dalam diri kita itu sendiri melalui cara yang paling pahit dan pengalaman yang paling dalam, sehingga pengetahuan kita tentang Dia bukanlah pengetahuan yang biasa, melainkan untuk tujuan khusus. Oh, godaan-godaan yang ada sementara kita melaluinya! Betapa besarnya dasar yang bisa digunakan oleh musuh ketika Tuhan menempatkan kita melalui api-api tersebut! Namun saudara lihat, Sion adalah sesuatu yang dikerjakan di dalam api. Pertama-tama, ini adalah kesaksian bagi Israel mengenai kedaulatan mutlak Tuhan Yesus.

Izinkan saya menyimpulkan hal tersebut untuk saat ini dengan mengatakan sekali lagi bahwa saat ini terdapatkan kebutuhan yang sangat besar bagi Jemaat untuk dikembalikan kepada posisi ketuhanan mutlak Kristus. Dampaknya pada dunia ini sebagian besarnya telah hilang, dan alasannya adalah karena Tuhan Yesus tidak mempunyai tempat-Nya sebagai Penguasa mutlak. Segala macam hal-hal telah menggantikan kedaulatan mutlak Yesus Kristus – yaitu, pemerintahan Roh Kudus yang menyeluruh. Majelis dan komite dan dewan dan apa pun yang saudara sukai kecuali pemerintahan eksklusif Roh Kudus. Namun jalan Sion adalah jalan yang mahal, ini sama sekali bukan jalan yang mudah; itulah sebabnya Sion telah diserahkan dan hal-hal yang lebih mudah telah ditempatkan pada tempatnya. Ini tidaklah mudah untuk menantikan Tuhan, untuk mendapatkan pemerintahan saudara yang sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus. Ini adalah jalan yang sulit, dan ini menguji saudara tentang apakah saudara akan meletakkan tangan saudara pada hal-hal – apakah seperti Saul, manusia daging, saudara tidak akan berlama-lama menantikan Tuhan, namun mengambil segala sesuatunya ke dalam tangan saudara sendiri. Di sepanjang garis itulah dan dengan cara itulah bahwa seluruh pertanyaannya muncul – Apakah Ia Tuhan? Jemaat belum siap untuk membayar biaya itu, dan Jemaat telah kehilangan kesaksiannya. Tuhan memulihkan kesaksian itu bagi Jemaat di tengah-tengah Jemaat!

Kesaksian Sebuah Hidup yang telah Menaklukkan Maut

Sekarang hal berikutnya tentang kesaksian ini. “Dan di atas gunung ini Tuhan akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya” (Yesaya 25:7-8). Di gunung ini, Sion, kesaksiannya adalah tentang kemenangan penuh Tuhan atas maut, kesaksian dari hidup yang menaklukkan maut. Ini muncul dari ketuhanan-Nya yang mutlak, ini merupakan bagian darinya, namun ini bekerja dengan cara ini – ketika Tuhan mendapatkan umat ‘Sion’, di sana saudara memiliki kesaksian yang tidak biasa tentang hidup. Hal yang harus selalu kita ingat (saya menyatakannya hanya sebagai sebuah fakta tanpa penjelasan apa pun sekarang) adalah bahwa jika saudara mendapatkan suatu umat yang sesuai dengan apa yang dimaksudkan dengan Sion – masuk ke dalam pemikiran Allah yang lebih penuh sebagai di dalam Anak-Nya – hal yang ditemukan ketika saudara bertemu dengan mereka adalah hidup. Oh, saya beri tahu saudara bahwa saya sangat menghargai aspek kesaksian ini dengan sangat, sangat sayangnya dan sangat besarnya. Bagi saya ini berarti hampir segalanya, bahwa kita harus dipertahankan di dalam hidup – bukan hanya suatu umat yang memiliki ajaran khusus, banyak terang dan banyak kebenaran tetapi semati-matinya seperti apa pun lainnya. (Dan ini bisa jadi seperti itu: saudara bisa mendapatkan kebenaran yang sangat banyak namun saudara sungguh mati.) Namun apakah ajaran tersebut dipahami atau tidak oleh orang-orang yang datang, kami ingin agar hal pertama yang harus mereka temui dan pahami adalah – Sungguh hidup yang luar biasa yang ada di sini! Bukan, sungguh pengajaran apa yang ada di sini, melainkan sungguh hidup yang luar biasa yang ada di sini! Dalam suasana seperti itu, saudara mendapatkan peningkatan yang luar biasa, saudara menemukan diri saudara sendiri kembali bersemangat. Ya, maut telah ditelan. Itulah kesaksiannya; itu adalah bagian dari kesaksian bagi Israel, dan siapa yang akan mengatakan bahwa Jemaat secara keseluruhan tidak perlu mengetahui dengan cara yang baru dan lebih kuat kuasa hidup kebangkitan-Nya? Bukankah itu adalah apa yang diperlukan? Itulah yang sebenarnya diinginkan oleh banyak orang. Mereka mencoba mewujudkannya dalam gerakan-gerakan terorganisir yang hebat; mereka merasakan kebutuhan akan hidup sebagai reaksi yang dahsyat terhadap maut yang telah datang masuk. Ini bukanlah hak kami untuk menghakimi atau mengkritik, namun kami dapat mengatakan ini, bahwa hidup ini tidak pernah dapat dibuat-buat. Hidup ini tidak akan pernah bisa dicapai dengan usaha yang besar. Ini adalah pemberontakan Tuhan yang telah bangkit di mana Ia mempunyai ruang dan kapasitas; dan ruang serta kapasitas hanya dibuat dengan kesusahan. Saudara harus menderita kepada hidup ini. Saudara tidak bisa mendapatkannya dengan harga murah, saudara tidak bisa mengusahakannya dan memproduksinya dengan cara manusia apa pun. Hidup ini hanya dapat muncul sebagai yang keluar dari maut melalui kebangkitan. Ini berbiaya.

Kesaksian Persediaan yang Melimpah

Kemudian di ayat 6 dari Yesaya 25, kita mendapatkan ini – “Tuhan semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakah yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.” “Di gunung ini;” “sebagai kesaksian bagi Israel.” Inilah persediaan yang berlimpah. Jika Tuhan benar-benar mendapatkan umatnya ke dalam pikiran penuh-Nya, mereka tidak akan menjadi umat yang hanya ada dengan diet kelaparan, yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, hanya sekedar dapat terus maju secara rohani; dan mengenai memiliki sesuatu untuk diberikan …! Oh ya, kondisinya seperti itu di banyak tempat. Saudara tidak akan menghargai jumlah surat yang datang kepada saya dari seluruh dunia dengan istilah seperti ini – ‘Aku tidak dapat menemukan makanan rohani apa pun di mana pun, tidak ada apa pun yang dapat ditemukan di seluruh distrik ini; kami kelaparan.’ Saya tidak melebih-lebihkan ketika saya mengatakan bahwa dalam waktu satu tahun, saya dapat mengisi banyak jilid-jilid dengan hal semacam itu – seruan minta makanan dari umat Tuhan. Inilah gambarannya dan ini bukanlah khayalan, ini tragisnya benar adanya. Tapi, bersyukurlah, sisi lainnya juga sama benarnya; ada perjamuan masakan yang bergemuk ketika saudara berada di jalan pemikiran penuh Tuhan dan siap untuk membayar biayanya – harga menjadi sebuah alat bagi-Nya; bukan harga keselamatan, tapi, melainkan harga panggilan untuk melayani Dia. Kemudian saudara dapat memiliki sebuah perjamuan yang terisi penuh, perjamuan yang penuh dengan masakan yang bergemuk, dengan kelimpahan untuk diri saudara sendiri dan banyak untuk diberikan kepada orang lain. Oh ya, memang benar, tidak ada keinginan, tidak ada kekurangan; ada berkelimpahan, ada luapan, di Sion, “di gunung ini.”

Kesaksian Wahyu dan Pencerahan

Lalu yang terakhir, “Dan di atas gunung ini Tuhan akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa.” Itu hanya berarti bahwa kesaksian yang keluar adalah satu dari wahyu dan pencerahan, di mana orang-orang yang duduk dalam kegelapan dibuat untuk melihat. Kata yang ditujukan kepada Sion di dalam kitab Yesaya ini adalah, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yesaya 60:1). Itu adalah kepada Sion. Tapi apa padanannya di dalam Perjanjian Baru? Saya rasa ini terdapat dalam surat terakhir Paulus itu kepada Jemaat. Lihatlah surat kepada jemaat di “Efesus” dengan kata ‘kemuliaan’ di mata saudara, ini patut diperhatikan betapa besarnya tempat yang ditempati oleh kata ‘kemuliaan’ itu di dalam surat-surat dalam penjara tersebut. “Kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” Bangkitlah, menjadi teranglah! Di gunung ini, di Sion, di dalam umat yang sepenuhnya diserahkan kepada kepentingan Allah yang tertinggi dan terpenuh, ada diberikan pelayanan pencerahan dan wahyu, pengoyakkan tudung yang ditudungkan. Inilah kesaksian bagi Israel, Israel rohani milik Allah. “Ke mana suku-suku berziarah sebagai kesaksian.” Semua yang harus kita lakukan hanyalah untuk memohon kepada Tuhan untuk memberi kita energi dari hati, ketekunan dan tujuan, untuk berziarah ke Sion – semua yang diartikan dari itu secara rohani – untuk berhasrat mengadakan ziarah ke Sion di dalam hati kita. “Yang berhasrat mengadakan ziarah ke Sion” (Mazmur 84:5). Jalan yang menuju Sion ini adalah perkara hati.

Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.