Austin-Sparks.net

Masalah Batu

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan di dalam majalah “Saksi dan Kesaksian,” Mar-Apr 1951, Jilid 29-2. Judul asli: "The Problem of the Stone". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

Bacaan: Markus 16:3-6. “Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” … batu itu memang sangat besar.”

Ini adalah salah satu dari banyak masalah manusia yang memiliki solusi sorgawi. Marilah kita datang melihat apa yang diwakili oleh batu ini bagi mereka yang bersangkutan.

Kekecewaan Harapan dan Pengharapan

Pertama, ini mewakili kekecewaan dari semua harapan dan pengharapan mereka. Jika mereka telah berada di dekat sana ketika batu besar itu digulingkan ke dalam posisinya di pintu kubur dan jika mereka telah melihat (seperti yang dikatakan kepada kita di tempat lain) meterai yang diletakkan di atasnya, mereka akan berpaling, dan berkata di dalam hati mereka, ‘Itu adalah akhir dari segala harapan kami, itu adalah kekecewaan dari semua pengharapan kami.’ Kita tahu bagaimana dua dari pengikut Tuhan melakukan perjalanan setelah waktu itu, dan diinterogasi tentang keputusasaan yang ada di muka mereka dan di dalam nada mereka, mereka berkata, “Padalah kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Lukas 24:21). Bagi mereka, semua harapan penebusan Israel telah pergi bersamaan dengan penutupan kubur, dan setiap harapan yang telah mereka tetapkan hati mereka padanya, telah selesai.

Kuasa Dunia ini

Sekali lagi, batu itu melambangkan kemenangan nyata dari kuasa dunia ini. Dunia telah memusatkan kekuatannya pada Satu yang di dalam kubur itu dan tampaknya telah menang. Pada waktu itu, dunia telah memperoleh harinya; semua buktinya menyatakan bahwa kuasanya telah menaklukkan.

Masalah Rohani tentang Kematian

Tetapi lebih dari itu, batu itu melambangkan masalah rohani tentang kematian yang mengerikan. Kematian adalah masalah rohani yang besar. Saya tidak akan menetap pada hal itu sekarang; tetapi di hadapan kematian, saudara dihadapkan dengan masalah yang luar biasa, dan selalu mengajukan segala jenis pertanyaan. Ada mengikuti kematian, suatu ketidakberdayaan yang menyeluruh, dan penuntutan akan sesuatu yang di luar kemampuan kita. Tidak ada seorang pun yang pernah kembali dari kematian kepada kita secara pribadi, secara harfiah, untuk memberi tahu kita apa pun yang ingin kita ketahui. Kematian selalu merupakan misteri yang luar biasa, dan itu adalah dua kali lipat demikian bagi para pengikut Tuhan; sebab mereka tidak hanya bingung oleh masalah umumnya tetapi juga oleh masalah khusus-nya tentang kematian-Nya. Saudara hampir dapat mendengar mereka bertanya di dalam hati. Bahwa Ia harus mati, bahwa ini harus terjadi pada-Nya! Apa artinya itu?

Batu itu sungguh adalah suatu batu yang sangat besar, dilihat dari segala sudut. Memang, hal ini benar, bahwa “batu itu memang sangat besar.” Dan kita harus masuk ke dalam roh dari apa yang kita sebut sisi negatif, sisi gelap, dari maknanya sebelum kita dapat benar-benar menghargai sisi lainnya – yaitu, apa yang dilambangkan oleh batu itu bagi mereka dan bagi kita semua di dalam Kristus.

Kedatangan Dunia Lain

Pertama-tama, ini melambangkan kedatangan dunia lain daripada yang ini. Laki-laki muda berjubah putih itu – kita membaca dalam catatan lain bahwa ada dua orang dalam pakaian yang memesona, tetapi di sini dikatakan satu – adalah pengunjung dari dunia lain; dan segala sesuatu yang berhubungan dengan batu ini dan penggulingannya, sebagaimana diberikan dalam empat catatan yang kita miliki, berbicara tentang intervensi dari dunia lain. Ini menyatakan bahwa dunia ini, setelah semuanya, bukanlah semua yang harus kita perhitungkan, atau bahwa kematian dan manusia atau kekecewaan bukanlah semua yang harus kita perhitungkan. Ada dunia yang sepenuhnya lain, dalam hubungan erat dengan yang ini, dan yang lebih perkasa darinya, bertindak dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan Allah yang berpusat pada Anak-Nya, dan yang tidak akan pernah, dengan alasan apa pun, ditelan dalam kubur itu. Seluruh dunia lain itu tertarik pada batu ini, dalam semua masalah yang terkait dengannya di dalam hati para pengikut Tuhan Yesus yang sejati, tulus, sederhana dan berbakti. Kedatangan dunia itu dikumpulkan ke dalam batu ini ketika batu ini digulingkan, menyatakan bahwa dunia itu sangat dekat dan harus diperhitungkan ketika kepentingan kekal Allah dalam Anak-Nya dipermasalahkan.

Kita tidak tahu – sebab kita tidak memiliki bukti yang dapat dipakai untuk bekerja – tetapi ini tidak akan mengejutkan jika dari waktu ke waktu setelah bertahun-tahun mereka merujuk kepadanya. ‘Kamu ingat masalah besar kita tentang batu itu, betapa tak berdayanya kita merasa pada pagi hari itu, betapa seluruhnya tidak berdaya, bagaimana setiap harapan hilang; batu itu mewakili bagi kita sebuah jalan buntu, suatu situasi yang mustahil. Tetapi itu tidak ada di sana ketika kita tiba di tempat itu! Ini sesederhana itu! Ini adalah baik untuk mengingat bahwa Allah dapat melakukannya seperti itu.’ Ada dunia lain yang begitu unggul sehingga membuat masalah-masalah kita tidak ada apa-apanya, sehingga mengabaikan penyebab terbesar dari kekecewaan dan keputusasaan dengan sebegitu sederhananya seolah-olah mereka tidak pernah ada; untuk memusnahkan mereka dengan demikian saksamanya sehingga pada suatu waktu kita merasa situasinya benar-benar mustahil dan namun ketika kita tiba di tempatnya, tidak ada situasi sama sekali yang harus dihadapi. Setelah itu, seperti itulah kelihatannya bagi para perempuan-perempuan itu. Allah seperti itu. Itu adalah sumber daya kita di hari ketika ada batu yang sangat besar. Ya, kedatangan dunia yang lain.

Kuasa Hidup yang menang atas Maut

Lebih lanjut, batu itu menjadi simbol kuasa hidup yang perkasa dan menang atas maut. Kita begitu akrab dengan ungkapan-ungkapan seperti itu sehingga mungkin mereka telah kehilangan poin-nya; tetapi bukankah Allah terus-menerus menyelesaikan masalah kita di sepanjang garis ini? Kita sedang mencari hal-hal untuk terjadi, namun di sepanjang waktu kuasa hidup-Nya yang bangkit bekerja secara diam-diam dan menyelesaikan begitu banyak masalah. Kami menoleh ke belakang dan mengingat betapa sering kami merasa bahwa kami tidak dapat melanjutkan lagi, bahwa kami tidak dapat bertahan lebih lama lagi, bahwa kami berada di ujung sumber daya kami – situasinya benar-benar di luar kami, dan beberapa hal yang luar biasa harus terjadi. Hal yang luar biasa yang kami harapkan tidak terjadi. Kenyataan-nya adalah bahwa kami sedang berjalan terus pada hari ini setelah sedemikian banyaknya pengalaman pencobaan dan ketidakberdayaan seperti itu; kami telah secara diam-diam terus dijaga tetap berjalan, dan kami terus berjalan; kami belum tenggelam dan kewalahan dan dipadamkan. Itulah mukjizat dari hidup Ilahi-Nya yang secara diam-diam menyelesaikan masalahnya, berurusan dengan begitu banyak hal-hal yang tampaknya mengatakan, Maut, suatu akhir! Kuasa kebangkitan-Nya adalah jawaban bagi banyak masalah kita. Kita mencari tindakan-tindakan; Ia melanjutkan di sepanjang jalan sunyi dari kehidupan, kuasa hidup yang perkasa yang menang atas maut. “Karena tidak mungkin” kata Firman, “Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kisah Para Rasul 2:24). Mereka berkata, ‘Ini tidak mungkin bagi kita untuk berurusan dengan batu ini, situasi ini!’ Ia berkata, ‘Karena tidak mungkin, maut menahan Aku.’ Ada dua cara melihat pada apa yang mustahil. Semuanya tergantung pada di mana saudara meletakkan ketidakmungkinan itu – pada hal-hal atau pada Allah. Hal-hal yang tidak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi Allah (Matius 19:26). Dan Ia menjawab hal-hal yang tidak mungkin ini dengan cara yang normal – sebab ini adalah cara yang normal; yang tidak normal adalah dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban dan kejadian-kejadian yang luar biasa: demonstrasi kepada indera kita; tetapi cara yang normal dalam kehidupan Kristen adalah cara transendensi terus-menerus dari hidup-Nya atas pekerjaan maut. Mukjizat itu jauh lebih umum daripada yang kita kenal. Saudara harus menjalani hidup saudara dan melakukan pekerjaan saudara di lingkungan kematian rohani di mana segala sesuatu bertentangan dengan kehidupan rohani, dan tidak ada yang mendukung saudara sama sekali, namun saudara tetap berjalan di sana di dalam Tuhan, dan tidak tertelan, dikuasai dan dihancurkan oleh atmosfer itu dan oleh kondisi-kondisi itu. Itulah mukjizat kehidupan Ilahi yang bekerja secara diam-diam. Milik saudara, maka, adalah suatu hidup – seperti hidup setiap orang lainnya – ditetapkan di hadapan batu besar maut, kematian rohani. Kita mengetahuinya, namun kita tetap hidup secara rohani dan kita berjalan terus. Itulah keajaiban besar. Itu adalah keajaiban setiap hari. Itulah kesaksian bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Transendensi Harapan-Harapan Sebelumnya

Batu ini menjadi simbol transendensi dari semua harapan-harapan mereka sebelumnya. Ini bukannya bahwa dalam kebangkitan Tuhan Yesus, harapan mereka sebelumnya dihidupkan kembali. Harapan mereka harus mengalami transformasi, pengharapan mereka harus sangat diubah. Intinya bukan hanya membangkitkan harapan mereka lagi dengan kebangkitan Kristus, tetapi transendensi absolut dari semua harapan yang telah dikecewakan. Mereka mencari penebusan Israel sementara: mereka harus melihat penebusan Israel dengan cara lain. Dalam kebangkitan Tuhan Yesus – atau izinkan saya mengatakannya demikian – dalam persatuan dengan Kristus yang bangkit, harapan kita jauh lebih besar dari pada semua harapan duniawi kita. Kita mungkin dalam kematian-Nya harus meletakkan harta kita di dalam debu, kita mungkin harus melepaskan banyak hal yang sangat berharga bagi kita dari harapan dan pengharapan serta ambisi dan masa depan. Dunia kita mungkin harus ditempatkan dengan batu-batu sungai (Ayub 22:24). Dalam persatuan kebangkitan dengan Kristus, sesuatu yang lebih diberikan kembali daripada apa yang kita inginkan sebelumnya. Allah seperti itu. Saudara mungkin mengatakan bahwa itu adalah bahasa dan terdengar sangat indah, tetapi apakah itu benar? Baiklah, saya menghimbau saudara yang memiliki hidup dan sejarah rohani sama sekali. Saudara pastinya telah melalui masa pencobaan yang dalam dan kelam di mana saudara harus menyerahkan segalanya – saudara telah sampai pada sebuah krisis di mana saudara harus meletakkan di atas mezbah sesuatu yang sangat berharga dan melepaskannya kepada Tuhan. Jika Tuhan belum memberikannya kembali kepada saudara, apakah saudara belum datang ke dalam beberapa kekayaan rohani, beberapa kebaikan rohani, sesuatu yang lebih dalam cara rohani yang membuat saudara berkata, ‘Ya, itu layak’? Jawaban Allah melalui Salib untuk semua harapan dan pengharapan yang dikecewakan adalah, dan dalam sifat Allah itu sendiri, harus menjadi, sesuatu yang lebih dari apa yang diletakkan di dalam kubur. Ini adalah prinsip dari Kristus yang bangkit itu sendiri. Ia adalah Kristus yang jauh lebih besar dalam kebangkitan daripada Dia sebelumnya – jika saya boleh mengatakannya seperti itu tanpa disalah-pahami. Ia menjadi universal dan tidak lokal, rohani dan tidak dibatasi oleh yang bersifat fisik. Ya, mereka akan mengatakan bahwa mereka telah datang ke dalam Kristus yang lebih besar. Ia bukan, tentu saja, dalam fakta aktualnya Kristus yang lebih besar. Mereka telah datang ke dalam kebesaran yang selalu ada di sana, tetapi yang sebelumnya tidak pernah mereka hargai. Ini adalah hukum maut dan kebangkitan – selalu meningkat, selalu lebih dari sebelumnya. Satu butir jagung jatuh ke tanah dan mati, dan banyak jagung-jagung dihasilkan. Pelampauan harapan-harapan sebelumnya datang dengan cara itu – dalam kedatangan kembali lagi, tetapi kedatangan kembali dengan sesuatu ditambahkan. Batu yang pada suatu waktu kelihatannya mengatakan, ‘tidak ada yang tersisa’ menjadi simbol peningkatan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka pikirkan.

Teguran Kepada Instruksi

Tetapi dengan semua itu, batu itu menjadi simbol dari suatu teguran, yang selalu, dengan Tuhan, bersifat instruksi. Tuhan tidak pernah menegur dengan cara mati: Ia selalu menegur secara instruktif. Saya bisa membayangkan mereka berkata satu sama lain dalam kegembiraan mereka, ‘Mengapa kita menghabiskan sepanjang malam menyiapkan rempah-rempah itu? Apa yang telah kita lakukan, setelah semuanya? Kita akan mengurapi mayat-Nya dengan rempah-rempah kita. Milik kita adalah keputusasaan total. Kita bekerja dalam ketidakpercayaan.’ Jika saudara bekerja dalam ketidakpercayaan, ini selalu akan menjadi keputusasaan. Mereka ditegur oleh batu yang tergulingkan. Sangat mungkin setelah bertahun-tahun, ketika mereka merenungkan sebuah situasi yang secara manusiawi sangatlah sulit atau tidak mungkin, peringatan ini akan kembali kepada mereka – ‘Ingatlah batu itu! Jangan menyusuri jalan itu lagi; maut ada di jalan itu!’ Dengan demikian, teguran itu akan menjadi instruksi.

Dan bukankah Tuhan menggunakan pengalaman kita seperti itu? Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak pernah pergi ke jalan itu lagi, dan saya tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita untuk menghadapi situasi-situasi yang mustahil lagi – Ia melakukannya; tetapi dalam ujian kedua, kita harus mendapatkan sesuatu dari yang pertama, dan dalam ujian ketiga, sesuatu dari yang kedua, dan dengan demikian kita terus membangun. “Allah … dari kematian yang begitu ngeri, Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi” (2 Korintus 1:10). Kita telah belajar sesuatu tentang Kristus. Teguran – namun kita membutuhkan teguran itu. Begitu sering ketika kesulitan muncul, kita turun, kita mengangkat tangan kita, kita dikuasai olehnya. Kita tidak mengatakan, ‘Tapi ingatlah, kita pernah menghadapi kesulitan sekali sebelumnya, dan Tuhan memastikan kita melaluinya, kita tidak turun hancur.’ Kita lambat untuk melakukan itu.

Kebutuhan untuk Latihan Subjektif

Lalu, kepada apa ini mengarah? Sangat menarik, dan saya pikir ini instruktif, untuk mencatat bahwa dari keempat Injil, Markus adalah satu-satunya di mana latihan subjektif yang terkait dengan peristiwa ini disebutkan. Tiga yang lainnya hanya mencatat yang objektif, yang eksternal, insiden-insiden kebangkitan. Seseorang berkata bahwa ada gempa bumi yang dahsyat dan lihatlah, seorang malaikat! Yohanes pergi lebih jauh lagi dengan mengatakan, ketika mendatangi kubur, Maria Magdalena “melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.” Tetapi tidak satu pun dari mereka menyebutkan apa yang dicatat Markus – bahwa mereka saling bertanya tentang siapa yang harus menggulingkan batu itu. Berikut ini adalah latihan subjektif. Ini berjumlah demikian. Sesuatu harus dilakukan di dalam kita sama seperti dilakukan bagi kita. Kita ingin berlanjut di sepanjang garis mendapatkan hal-hal dilakukan bagi kita, sorga yang bercampur tangan bagi kita, kesulitan-kesulitan kita disingkirkan untuk kita, memiliki jalan yang lurus dibuat bagi kita. Sorga mungkin siap untuk datang masuk, Tuhan mungkin siap untuk bekerja untuk kita, tetapi ini tidak cukup bagi-Nya – dan ini tidak akan terbukti cukup baik bagi kita – jika itu adalah semuanya. Prinsip pertumbuhan dan kedewasaan rohani itu sendiri menuntut bahwa Ia menjaga yang objektif dan subjektif seimbang; yaitu, bahwa sesuatu dilakukan di dalam kita dan juga bagi kita.

Ini adalah prinsip Salib lagi. Ia mati bagi kita – itu adalah yang objektif. Kita mati di dalam Dia – itu adalah yang subjektif. Inilah dua sisi dalam pengalaman rohani. Ia menjaga keseimbangan hal-hal. Kita harus memiliki keseimbangan ini dikerjakan di dalam kita, dan untuk dibebaskan dari kecenderungan ini di mana kita membiarkan masalah kita untuk mengaburkan Tuhan, kebiasaan kita yang lazim ini, dari memandang pada posisi hanya secara objektif, bukannya mengatakan, ‘Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita tentang ini? Apa yang Ia ingin lakukan di dalam kita dalam hal ini? Ada sesuatu yang Ia inginkan di dalam kita.’ Ia memiliki sesuatu untuk dilakukan di dalam kita sebelum Ia dapat melakukannya untuk kita. Betapa sering, kita telah menemukan bahwa ketika kita telah datang kepada posisi baru bersama dengan Tuhan, ketika hal itu telah dilakukan di dalam kita, maka telah terjadi gerakan lahiriah. Jadi penyebutan latihan subjektif menunjukkan bahwa kita harus membawa masalah ini ke dalam hati kita sendiri sebagai sesuatu yang membutuhkan sebuah perubahan di dalam diri kita. Saya cukup yakin bahwa itulah yang mereka rasakan ketika mereka bisa duduk dan membahasnya lagi. ‘Kami sangat terobsesi dengan masalah kami dan bertanya-tanya siapakah yang bisa menyelesaikannya bagi kami. Tuhan telah membuat kami untuk melihat bahwa kami harus berbeda secara batiniah tentang hal-hal ini, kami harus memiliki posisi iman, peristirahatan, atas mereka, kami harus percaya kepada Allah.’ Kita harus mendapatkan kemenangan batiniah atas batu itu sebelum ada kemenangan yang dapat diketahui atas hal itu secara lahiriah. Batu itu sebenarnya tidak ada di luar kita di tempat pertama. Batu ini ada di dalam; batu ini ada di dalam iman kita, ada di dalam roh kita, ada di dalam pikiran kita.

Ketika Tuhan bergerak demi Anak-Nya sendiri, dan memiliki kepentingan itu yang mengatur, dan ketika kepentingan-kepentingan itu telah membawa kita ke dalam hubungan yang sedemikian rupanya dengan-Nya sehingga kita dapat mengatakan bahwa tidak ada batu yang begitu besarnya sehingga tidak dapat disingkirkan, tidak ada masalah yang begitu besar sehingga tidak dapat dipecahkan, tidak ada kesulitan yang begitu hebat, tetapi Tuhan akan melakukan apa yang perlu demi Anak-Nya – ketika kita telah sampai pada posisi seperti itu, Tuhan bebas untuk melakukan banyak hal-hal dengan sangat diam-diam. Seperti yang kita katakan, mereka hanya ‘terjadi’. Ah, tetapi mereka telah menjadi objek dari latihan dari kuasa yang begitu besar – “Terjadilah gempa bumi yang hebat” (Matius 28:2). Tetapi di sini, dalam aspek situasi ini, sepertinya ini bukan gempa sama sekali. Hal itu hanya terjadi. Kita harus menyadari bahwa ada aspek kegiatan di mana rahasia, pekerjaan yang diam dari kuasa-Nya yang besar menghilangkan kesulitan-kesulitan terbesar seolah-olah mereka tidak pernah ada. Kadang-kadang Ia dapat membawa kita ke dalam hadirat karya kuasa-Nya yang secara nyatanya luar biasa, tetapi tidak sering dan pastinya tidak selalu demikian. Bagi iman, ini lebih seperti ini: ada kuasa yang sedemikian yang bekerja sehingga menjadikan mungkin penyisihan rintangan dengan sangat diam-diam, sehingga kita kemudian bertanya-tanya – “Dan mereka pun sangat terkejut”. Dan malaikat itu berkata, “Jangan takut.” Ini adalah baik untuk memiliki keheranan, tetapi marilah kita menyadari bahwa sejumlah keheranan kita adalah karena kita tidak memiliki cukup iman.


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.