Austin-Sparks.net

Iman Yang Berkenan Kepada Allah

oleh T. Austin-Sparks

Diedit dan disediakan oleh Golden Candlestick Trust. Judul asli: "Faith Which Pleases God". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

“Kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. “Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 10:34-11:1).

“Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” (Ibrani 11:27).

“Dengan mata yang tertuju kepada Yesus, … yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:18).

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7).

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” (Roma 8:24-25).

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (1 Petrus 1:8-9).

Saya pikir ini akan sangat membantu kita jika kita bisa mendapatkan pemahaman yang cukup jelas tentang makna dari Ibrani 11:1: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ada banyak terjemahan, banyak yang telah bergumul dengan pernyataan itu dan berusaha menjelaskannya, menunjukkan bahwa ada sesuatu di sini yang, jika kita bisa pahami, kaya dalam makna. Saya tidak akan menetap dengan terjemahan dan ucapan kata-kata alternatifnya, meskipun mungkin membantu, tetapi saya ingin membahas ayat itu dengan saudara, benar-benar mencoba dan memahami esensinya, substansinya. Apa arti ayat ini?

Kepastian Tentang Kehendak Allah

Tentu saja, jawabannya dengan cara yang cukup lengkap diberikan di dalam seluruh pasal. Seluruh pasal itu adalah eksposisi dari ayat pertama, dan ketika kita meringkasnya, ini sama dengan ini (dan saya akan mencoba untuk memasukkannya ke dalam beberapa pernyataan singkat namun komprehensif) artinya adalah ini: bahwa ada banyak orang yang, di bawah pengaruh Allah, telah menjadi percaya bahwa hal-hal tertentu adalah kehendak-Nya, dan kehendak-Nya sejauh mana mereka bersangkutan. Itu adalah bagian pertama dari jawabannya. Itu menempatkan kita di jalan, itu membantu kita sejauh mana itu berjalan. Semua orang yang disebutkan di sini, baik secara khususnya dengan nama maupun secara umum dalam Ibrani 11, adalah orang-orang yang telah berada di bawah pengaruh Allah dalam kaitannya dengan beberapa hal-hal tertentu, dan di bawah pengaruh itu mereka peraya bahwa hal itu adalah kehendak Allah dan kehendak Allah bagi mereka. Sekarang, saudara dapat mengikuti itu di waktu lain dan saat saudara melakukannya saudara akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Saya hanya memberi contoh satu atau dua kasus.

Habel, di bawah pengaruh Ilahi, menjadi percaya bahwa itu adalah kehendak Allah bahwa ia harus berdiri sebagai orang yang dibenarkan di hadapan Allah, itu adalah kehendak Allah baginya. Itu menjadi masalah hidup Habel dan ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar. Itu adalah awal yang sederhana. Ia datang, di bawah pengaruh Allah, menjadi percaya bahwa hal tertentu adalah kehendak Allah dan kehendak Allah bagi dia, dan itu adalah bahwa ia harus berdiri sebagai orang yang dibenarkan di hadapan Allah. Itu menjadi hal yang meringkas seluruh masalah tentang iman sejauh mana Habel bersangkutan.

Abraham, di bawah pengaruh Ilahi itu, menjadi percaya bahwa kehendak Allah adalah bahwa ia harus memiliki negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya. Itu adalah kehendak Allah baginya dan itu menyimpulkan seluruh pertanyaan tentang iman bagi Abraham. Sara, di bawah pengaruh Ilahi, datang ke tempat di mana baginya kehendak Allah adalah seorang anak laki-laki.

Jadi saudara melewati setiap orang dan di situlah saudara memulai, dan jadi kami mengulangi pernyataan ini sebagai langkah pertama dalam menjawab pertanyaan ini: ada banyak orang melalui masa lalu yang, di bawah pengaruh Allah, menjadi percaya bahwa hal-hal tertentu adalah kehendak-Nya dan adalah kehendak-Nya bagi mereka.

Sebelum kita melangkah lebih lanjut, kita harus segera menghubungkan diri kita dengan pernyataan itu dan bertanya pada diri kita sendiri sebuah pertanyaan yang sangat sederhana. Sudahkah kita, di bawah pengaruh Ilahi, menjadi percaya bahwa hal tertentu atau hal-hal tertentu adalah kehendak Allah dan bahwa itu adalah kehendak Allah sejauh mana kita bersangkutan?

Kita berbicara tentang memiliki keyakinan. Saya tidak mengatakan bahwa setiap posisi yang kita ambil dan setiap keyakinan yang kita miliki dilahirkan dari Allah. Kita mungkin salah dalam beberapa keyakinan yang terkuatnya kita, tetapi saya membawanya ke dunia itu sekarang, dan bertanya bagaimana kita datang kepada posisi kita, keyakinan kita, kepastian kita? Bisakah kita mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa, di bawah pengaruh Ilahi, yaitu, sebagai sesuatu antara Allah dan diri kita sendiri, kita berada di tempat kita sekarang, kita telah datang oleh pekerjaan Allah di dalam kita untuk percaya bahwa hal-hal tertentu adalah kehendak Allah? Saudara yang terkasih, kita tidak memiliki dasar kepastian sampai kita berada di sana. Ini adalah dasar dari iman yang akan dilakukan di dalam diri kita, apa yang dilakukan di dalam orang-orang ini, tetapi kita harus yakin akan sumber pengaruhnya, yaitu, kita harus, seperti dalam setiap kasus dalam pasal ini, tahu bahwa itu keluar dari Allah, hal ini berasal dari Allah, ini adalah Allah. Ya, tentu saja, kita harus kembali kepada Firman Allah untuk menegaskan hal itu, dan kita akan menemukan bahwa setiap tahap kehidupan dan pengalaman rohani disentuh dalam pasal ini.

Apakah itu kehendak Allah bahwa saudara dan saya harus berdiri sebagai orang yang dibenarkan di hadapan Allah? Yah, kita tidak akan, bagaimanapun juga dalam doktrin, menyangkal hal itu. Kita telah mendapatkan itu di dalam Firman Allah. Itu adalah kehendak Allah dan itu adalah kehendak Allah bagi kita. Oleh karena itu, itu harus menjadi dasar iman. Dan saudara dapat melanjutkan dan menemukan bahwa hidup rohani semakin mendalam, bahwa saudara diambil lebih jauh dari kedalaman saudara sendiri dalam pasal ini, namun, jauh dari kedalaman diri saudara sendiri, di luar kekuatan saudara sendiri dalam menghadapi situasi ini, saudara dapat masih memiliki kepastian bahwa itu adalah kehendak Allah bagi saudara, dan saudara ada di sana, di dalam kedalaman yang terlalu besar bagi saudara, sebab itu adalah kehendak Allah. Abraham menemukan dirinya di sana dan yang lainnya juga. Itu hanya dengan cara menjejakkan kaki kita di tangga-tangga iman ini.

Kurangnya Bukti Lahiriah

Hal yang kedua adalah ini. Hal-hal yang mereka percayai adalah kehendak Allah, hal-hal itu, bukannya didukung oleh bukti, memiliki segala sesuatu di dunia yang terlihat bertentangan dengannya dan membuatnya menjadi baik tidak nyata dan juga tidak mungkin.

Mari kita kombinasikan kedua hal ini. Mereka datang, di bawah pengaruh Ilahi, menjadi percaya bahwa hal-hal tertentu adalah kehendak Allah dan kehendak Allah sejauh mana mereka bersangkutan, namun pada saat yang sama, hal-hal itu sendiri tidak memiliki dukungan oleh bukti yang terlihat, tetapi sebaliknya memiliki segala sesuatu di dunia yang terlihat bertentangan dengannya dan membuatnya menjadi baik tidak nyata dan juga tidak mungkin.

Apa yang Habel miliki untuk dipegang bahwa itu adalah kehendak Allah bahwa ia harus berdiri sebagai orang yang dibenarkan di hadapan Allah? Jika buktinya dicari di bagian luar, maka Kain memilikinya. Kain memiliki buah yang paling indah sebagai hasil dari usahanya sendiri, kerja kerasnya sendiri. Ia memiliki sesuatu untuk dipersembahkan, yang dalam penampilannya bagus dan dalam argumennya, itu benar, sebab ia telah menghasilkannya dengan kerja keras dan upaya yang jujur. Argumen-nya mungkin menguntungkan Kain saat ia membawa persembahannya. Apa yang dimiliki Habel? Tidak ada yang dari penghasilannya sendiri, tidak ada yang dari dirinya sendiri, tidak ada yang merupakan hasil dari kemampuan dan upayanya sendiri, tetapi kebergantungan sepenuhnya pada kehidupan lain; sesuatu yang ia tidak bisa hasilkan. Ia tidak bisa menghasilkan seekor anak domba; ia tidak bisa membuat satu domba di antara semua kawanannya untuk hidup; ia tidak bisa memberikan hidup pada seekor domba kecil – tidak ada apa pun di sana yang telah dihasilkan dari kejeniusan, kerja keras, atau efisiensi Habel. Ini adalah sesuatu yang terpisah dari dirinya sendiri, dan kita tahu bahwa itu pada prinsipnya benar – Hidup yang Lain, Jasa yang Lain. Buktinya tidak ada sama sekali di dunia yang terlihat. Mereka hanya berada di dalam yang rohani, di dalam yang tak terlihat, suatu masalah iman semata, namun ia yakin bahwa itu adalah jalan Allah baginya. Itu adalah jalan pembenaran, dijadikan benar di hadapan Allah. Ia tidak bisa membuktikannya, ia tidak bisa memperdebatkannya, ia tidak bisa mengerjakannya. Tidak ada bukti di luar sama sekali.

Apa yang dimiliki Abraham dalam bukti? Ya, kita tahu kisah Abraham dalam kaitannya dengan negeri yang adalah objek keyakinannya yang terdalam dalam kaitannya dengan kehendak Allah. Saya kira kita belum benar-benar memahami situasi Abraham. Ia datang ke negeri itu; kita tahu bagaimana ia menemukannya, kondisi saat ia menemukannya. Kita belum menyadari bahwa, sampai kematian Sara, Abraham telah berjalan naik dan turun di negeri itu selama lima puluh tahun dan tetap belum memiliki pijakan di negeri itu – lima puluh tahun tinggal di kemah bersama Ishak dan Yakub, ahli waris janji; seorang pendatang di dalam kemah, menolak untuk menetap di sebuah kota atau di sebuah rumah – menolak, dengan sengaja menolak. Ada kota-kota, ada rumah-rumah. Tidak, ia tetap di kemahnya dan untuk seumur hidup bergerak di negeri sebagai ahli waris namun tidak memiliki apa pun. Tidak akan sulit untuk membawa itu kepada pengalaman rohani kita sendiri. Kita dapat mendengar Tuhan kita berkata, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu,” tetapi “dalam dunia kamu menderita penganiayaan.” Di dunia tidak ada banyak bukti bahwa Kerajaan adalah milik kita, tetapi kita adalah ahli waris dari Kerajaan. Saya tidak boleh tinggal terlalu lama dengan masing-masing bagiannya, tetapi ini adalah hal yang sangat penting bagi kita untuk diselesaikan. Cepat atau lambat, kita harus menyelesaikan pertanyaan ini, mungkin semakin cepat semakin baik. Lihatlah lagi kepadanya.

Ada dua cara untuk melihatnya. Kehendak Allah mungkin merupakan hal yang selesai di dalam hati kita. Mungkin tidak ada keraguan tentang hal itu bahwa kita telah sampai pada posisi tertentu sebagai di bawah pengaruh Ilahi. Itu mewakili kehendak Allah, sejauh mana kita bersangkutan, namun, daripada memiliki hal itu dibuktikan dengan bukti-bukti yang terlihat, itu mungkin semuanya bertolak belakang di dalam dunia yang terlihat, dan kita harus mengambil sudut pandang lain ini dengan cukup yakin. Oh, berapa lama yang kita butuhkan untuk sampai pada sudut pandang kepastian ini bahwa bukti-bukti, sebagaimana disebutnya, semuanya bertentangan, yang menentang, yang menyangkal, yang membuat posisi batiniah itu benar-benar tidak nyata dan tidak mungkin, bukanlah argumen bahwa itu bukanlah kehendak Allah! Itulah yang dikatakan dalam pasal ini. Itulah esensi dari ayat 1 seperti yang diilustrasikan selama berabad-abad ini, suatu posisi yang benar-benar dari Allah, namun dikelilingi oleh segala sesuatu yang bertentangan, menyangkal, menjadikannya tidak nyata di dunia ini, dan menyatakannya sebagai sesuatu yang mustahil. Namun sejarah telah membuktikan bahwa hal yang dikerjakan di dalam oleh Allah adalah hal yang benar dan semuanya yang lainnya hanyalah yang akan berlalu, dan oleh karena itu hal yang tidak nyata. Itulah yang dimaksudkan oleh rasul dengan “yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:18).

Masalah-Masalah Terikat dengan Kehendak Allah

Sekarang langkah selanjutnya dalam jawaban kami adalah, sementara semua bukti-bukti ini kelihatannya membuktikan bahwa ini bukanlah kehendak Allah dan jalan Allah, mereka begitu nyata dalam kehidupan batiniah mereka yang bersangkutan sehingga memiliki cukup banyak masalah-masalah yang sangat besar yang terikat dengan mereka. Dan masalahnya adalah ini – atau berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Diri Allah Sendiri

Pertama, mereka melibatkan Diri Allah Sendiri, dan itu bukanlah masalah yang kecil. Tanyakan Habel tentang masalah ini; apa yang bergantung baginya dengan jalan yang ia ambil ini, mengapa ia memilih jalan ini, dan mengapa ia berpegang teguh pada jalan ini; mengapa ia sangat percaya bahwa ini adalah jalannya dan bukan jalan Kain. Betapa pentingnya ini baginya! Apa yang terlibat baginya dalam hal ini? Jawabannya tidak lain adalah Diri Allah Sendiri. Dan saya bertanya kepada saudara, yang terkasihi, dalam terang sejarah terkini, apakah Habel benar – masalah sederhana Habel tentang kehendak Allah – pembenaran oleh iman. Apakah ia benar? Apakah Diri Allah terlibat? Apakah ini tidak lebih dari masalah tentang Diri Allah Sendiri?

Kita telah mendapatkan Perjanjian Baru kita sekarang, kita telah mendapatkan surat kepada jemaat di Roma itu sendiri, dan jika Diri Allah Sendiri tidak terikat dengan masalah pembenaran orang fasik melalui iman, kita telah kehilangan Allah kita, kita berada di alam semesta sebagai orang hilang, kita tidak tahu jalannya. Tanyakan kepada semua jiwa yang miskin hari ini di dunia ini, jutaan dari mereka, apa yang mereka perjuangkan dalam pengorbanan mereka, dengan hal-hal berhala mereka, dengan mantera mereka, dengan penderitaan yang dibuat mereka sendiri, semua yang mereka deritakan dalam agama mereka, dan mereka akan berkata, ‘Untuk berdiri sebagai orang yang dibenarkan di hadapan Allah’, dan di manakah mereka? Jiwa yang miskin, jiwa yang malang! Mungkin sejumlah yang lebih besar dari kesengsaraan dunia ini dihasilkan karena telah kehilangan jalan dalam hal pembenaran oleh iman – maksud saya dalam kesengsaraan jiwa-jiwa. Pergilah ke negera kafir mana saja dan lihatlah kesengsaraan jiwa, kengerian, ketakutan, horornya, semua kezaliman roh-roh jahat ini – saudara tahu semuanya. Mengapa semua masalah jiwa ini di dunia? Pada titik ini saja – pembenaran oleh iman. Saya katakan kepada saudara, Allah terlibat dalam hal ini, dan jika saudara tidak mendapatkan kaki saudara pada anak tangga itu, maka saudara belum mendapatkan Allah; tidak ada kepastian dari Allah. Itu adalah masalahnya bagi Habel. Berapa banyak yang ia mengerti, kita tidak tahu, tetapi artinya begini, ‘Bagiku, Allah terlibat dalam hal ini, dan jika ini tidak benar, maka aku telah kehilangan Allah, aku tidak mengenal Allah, aku telah kehilangan jalannya’.

Tanyakan Abraham tentang hal itu. Saya tidak ragu tetapi bahwa Abraham memiliki waktu yang sama seperti saudara dan saya miliki. Janji-janjinya – ya! Tapi di manakah pemenuhan mereka? Kepastian – ya! Tetapi apa yang sedang terjadi? Dibuat menjadi ahli waris – ya! Tetapi apa yang kita punya? Saudara lihat? Allah dan penampilan; Allah dan hal-hal yang terlihat; mereka adalah dua dunia yang berbeda. Allah ada di sana, dan semua yang ada di sini bertentangan dengannya. Allah telah berkata, tetapi segala sesuatu tampaknya mengatakan bahwa itu adalah kesalahan, bahwa itu salah, janji-janjinya tidak dapat diandalkan. Allah terlibat dan namun bagi orang-orang ini, hal-hal ini begitu nyatanya sehingga tidak kurang dari Diri Allah Sendiri adalah masalahnya bagi iman mereka.

Saudara yang terkasihi, itulah satu-satunya dasar iman yang sejati. Jika kita telah menaruh iman kita pada hal-hal, kita akan memiliki waktu yang buruk. Satu-satunya dasar adalah Allah. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah” (Mazmur 42:5). Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, berharaplah kepada Allah. Apa objek dari pengharapan saudara? Allah! Bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat – “Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” Maafkan saya karena menyatukan hal-hal dan Allah bersamaan, tetapi saudara mengerti intinya. Ia yang tidak terlihat – segala sesuatu yang tidak terlihat; bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Langkah pertama adalah kepastian Allah akan posisi kita, Allah terikat dengan posisi kita, bahwa Allah terlibat dalam posisi kita, Allah telah melakukan sesuatu di dalam diri kita. Ini bukanlah beberapa posisi kepada apa kita telah datang, beberapa kesimpulan mental, sesuatu yang kita adopsi, sesuatu yang kita inginkan dan telah kencangkan, tetapi Allah telah melakukan sesuatu di dalam diri kita sehingga masalahnya tidak kurang dari masalah tentang Diri Allah Sendiri. Saudara tidak dapat membaca Ibrani 11 tanpa menemukan bahwa dengan setiap contoh dan kasus baru, masalahnya adalah Diri Allah Sendiri. Mereka terbakar dalam nyala api, dilemparkan ke dalam api. Semua ini termasuk dalam pasal ini, tetapi kepada siapa hal itu merujuk pada? Ini merujuk pada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Dan apa posisi mereka? “Allah kami … sanggup melepaskan kami … tetapi seandainya tidak …” Ia akan melepaskan, tetapi jika tidak …! “Tetapi seandainya tidak, kami tidak akan memuja dewa tuanku, kami akan tetap berpegang pada-Nya.” Ini tidak kurang dari sebuah pertanyaan tentang Diri Allah Sendiri. Ini bukan beberapa (bolehkan saya menggunakan katanya?) posisi berkepala-babi yang telah kita adopsi di mana kita tidak akan melepaskannya untuk siapa pun. Ini adalah Diri Allah Sendiri! Allah ada di sini untuk kita. Nah, itu adalah masalah pertama – sebuah masalah yang perkasa.

2. Hidup dan Takdir

Kemudian hal-hal ini dalam diri mereka sendiri yang terdalamnya oleh pekerjaan Allah sendiri, melibatkan seluruh hidup dan takdir orang-orang ini. Mereka begitu dalam dan begitu kuat sehingga orang-orang ini tidak memiliki alternatif lain. Mereka tidak memiliki program cadangan, jalan alternatifnya. Mereka tidak menyimpan sesuatu ‘di lengan baju mereka’ bahwa, jika ini gagal, mereka memiliki jalan yang lain itu, bagaimanapun juga. Tidak, bagi mereka kehendak Allah ini di dalam hati mereka melibatkan seluruh hidup dan takdir mereka. Jika Allah gagal – sebab memang itulah artinya – jika Allah gagal di dalam hal ini yang telah Ia lakukan di dalam diri mereka, yang mereka tahu Ia telah tempa, hidup mereka hilang dan takdir mereka lenyap. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Oh, yang terkasihi, apakah kita yakin kita berada di sana? Allah akan bekerja sedemikian rupanya di dalam kita untuk membawa kita ke sana sehingga kita tidak memiliki alternatif, tidak ada cadangan. Kita harus mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan Allah di dalam diri kita melibatkan hidup dan takdir kita. Kita tidak dapat mengundurkan diri dan mengambil sesuatu yang lain karena yang ini rusak. Ini sangatlah penting untuk berada di sana atau kita tidak akan melewati, dan semua pengujian kita akan menjadi ujian, apakah itu adalah sifat dari hal-hal yang menjadi perhatian kita. Bisakah kita melepaskan ketika berada di bawah tekanan dan memilih jalan lain? Kemudian, jika kita bisa, hal itu adalah sebuah ‘benda’, itu bukan Allah. Ini adalah beberapa hal-hal. Itu tidak cukup baik. Ini melibatkan segalanya; hidup dan takdir. Tidak ada jalan lain.

3. Pengabaian Segala Sesuatu yang Lainnya

Lalu selanjutnya. Hal-hal ini yang bagi mereka adalah kehendak Allah yang ditempa di dalam, apakah itu satu hal atau beberapa hal-hal, memimpin pada pengabaian segala sesuatu yang ada di sini demi kepentingan hal-hal yang tidak terlihat itu. Mereka begitu nyata sehingga segala sesuatu diabaikan untuk mereka. Bagi Habel, itu berarti hidup, itu berarti segalanya. Ia harus melepaskan segalanya sehubungan dengan apa yang Allah telah tempa dalam dirinya dan menyatakannya kepadanya, sebagai kehendak-Nya. Abraham juga meninggalkan segalanya. Ia semakin ditelanjangi sampai akhirnya ia tampaknya dicukur bahkan dari janji-janjinya, sejauh mana pemenuhan yang dapat terlihat bersangkutan, dan dicukur dari satu-satunya dan hanya satu-satunya di dalam siapa dan melalui siapa janji-janji itu dapat dinyatakan – Ishak. Apakah ia berkata, ‘Aku akan kembali ke Ur-Kasdim, aku akan kembali ke kehidupan lamaku – ini tidak berhasil?’ Tidak, ia melepaskannya, ia mengabaikan segalanya. Hal-hal yang tidak terlihat begitu nyatanya sehingga hal-hal yang terlihat dapat dilepaskan. Ini adalah esensi iman, iman yang dapat melalui.

4. Kekuatan Daya Tahan

Itu berarti, di tempat berikutnya, bahwa hal-hal ini sendiri, sebab mereka nyata dan melibatkan masalah-masalah yang begitu perkasa bagi orang-orang yang bersangkutan ini, hal-hal ini menjadi motif kekuatan dari penderitaan dan daya tahan mereka. “Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” Itu bisa dikatakan tentang mereka semua. Mereka bertahan, mereka melewati, mereka menderita, sebagai yang melihat apa yang tidak bisa dilihat. Kekuatan daya tahan mereka adalah, akan kita sebut, penglihatan kedua, penglihatan rohani, bukan penglihatan alami.

Paulus tahu betul, ketika ia menulis surat kedua kepada jemaat di Korintus itu, di mana ia mencatat begitu banyak penderitaannya dan penderitaan orang-orang kudus, di mana ia berbicara tentang manusia lahiriah kita yang binasa dan seterusnya, ia tahu betul ketika ia menulis surat itu bahwa, jika orang-orang Korintus ini akan dipengaruhi oleh hal-hal yang terlihat, mereka tidak akan melewati. Memang, ia tahu itu bagi semua orang percaya, jadi ia, dalam terang kenyataan ini, berkata, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:17-18).

Ia akan berkata, pada efeknya, ‘Kamu tidak akan dapat melalui penderitaan ringan ini, kamu tidak akan dapat melalui penderitaan apa pun, jika kamu memperhatikan apa yang kelihatan. Kamu hanya akan dapat melalui penderitaan kepada kemuliaan jika kamu memperhatikan apa yang tak kelihatan.’ Itu sesuai dengan Ibrani 12:2 ‘dengan mata yang tertuju kepada Yesus.’

5. Sertifikat Persetujuan Sorga

Sekarang, mari kita lanjutkan secara singkat satu atau dua langkah lebih jauh. Hal-hal ini yang bagi orang-orang kudus ini merupakan kehendak Allah menjadi masalah di mana … bolehkah saya sebut, sertifikat persetujuan sorgawi beristirahat. Sepertinya bagi saya, seolah-olah mereka semua bekerja untuk sebuah sertifikat. Bagaimanapun juga, itu adalah cara yang baik untuk melihatnya. Apa yang dikatakan tentang mereka? Mereka memperoleh kesaksian bahwa mereka berkenan kepada Allah. Itu adalah sertifikatnya. Ya, sebelum mereka mati, tidak menerima janji-janji itu, tetapi memandang mereka dari jauh, tidak menerimanya, mereka mati, tetapi mereka memiliki kesaksian yang ditanggung sebelum mereka mati. Tidak ada bukti untuk membuktikan bahwa posisi mereka benar, setidaknya dalam banyak kasus tidak ada bukti, tetapi memperoleh kesaksian, dan itu adalah sertifikat persetujuan sorga.

Apakah saudara melihat apa artinya itu? Jika demikian, disertifikasi oleh sorga, “disetujui Allah”, apakah itu yang memberi kita sertifikat itu, sertifikasi sorga tentang kita yang disetujui oleh Allah? Iman, dan iman, esensi yang berarti bahwa meskipun kehendak Allah masih ada di yang tak terlihat dan bertentangan dengan semua bukti-bukti, kita bertahan. Sertifikat sorga! Saya katakan bahwa itu adalah cara yang baik untuk melihat hal-hal, sebab, setelah semuanya, apa akhirnya?

Saudara dan saya, ketika kita benar-benar duduk dengan masalah ini, kita tidak hanya ingin sekedar melalui oleh Allah secara mau tak mau terlepas dari diri kita sendiri. Saya tidak berpikir bahwa hati kita benar-benar menginginkan itu, ketika kita bertanya pada hati kita sendiri. Maksud saya, ini tidak akan menjadi sukacita dan kepuasan bagi hati kita, jika, dalam perjalanannya kita hancur, benar-benar hancur, kemudian Tuhan sekedar turun, mengangkat kita, dan membawa kita melalui; jika, di sepanjang kekekalan, kita harus mengatakan, ‘Aku hancur, Tuhan sangat baik tetapi aku adalah seorang yang miskin …’. Tidak-kah akan jauh lebih menyenangkan bagi kita untuk mengatakan bahwa kuasa Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan kita, sehingga kita mencapai tujuan iman kita – yaitu keselamatan jiwa kita? Ini adalah menjadi pewaris, mewarisi.

Ada sesuatu dalam keselamatan kita ini yang merupakan sisi lain dari kasih karunia, namun itu semuanya adalah kasih karunia. Saya harus sangat berhati-hati, tetapi ada warisan hidup kekal serta menerimanya sebagai hadiah. Ada pembenaran yang diperhitungkan kepada iman, tetapi ada tindakan yang benar dari orang-orang kudus dalam cara kain yang halus, maksud saya, sesuatu yang orang kudus telah menjadi dan lakukan, dan sementara itu semuanya adalah kasih karunia, setiap bagiannya, ini akan menjadi hal yang luar biasa jika kita bisa memenangkan sertifikatnya melalui kasih karunia. Melalui kasih karunia kita memenangkan mahkota yang dijanjikan. Ini akan menjadi hal yang luar biasa, yang terkasihi, jika tidak hanya dengan jiwa yang telah menjadi kegagalan total di setiap titik, Tuhan menerima kita ke dalam sorga, tetapi, karena, kita telah berperang dengan baik dan mempertahankan iman dan melanjutkan, Ia berkata, ‘Sungguh baik!’ – dan itu bukanlah sebuah karangan. Kita tahu dalam hati kita bahwa ini melalui kasih karunia-Nya dan melalui kekuatan-Nya, tetapi dari sisi-Nya ini akan menjadi, “sungguh baik, hamba yang baik dan setia. Kamu melalui, kamu bertahan, kamu tidak menyerah’ yang tulus. Sertifikat persetujuan sorga – yang berkenan kepada-Nya. Itu adalah ambisi Paulus, itu harus menjadi ambisi kita, untuk berkenan kepada-Nya.

6. Pelayanan Sejati kepada Allah

Tetapi hal terakhir. Semua ini melibatkan prinsip pelayanan sejati kepada Allah. Lagi pula, apa itu pelayanan yang sejati kepada Allah? Ini bukanlah jumlah hal-hal yang saudara dan saya lakukan di sini untuk Tuhan. Saya tidak ingin mencegah saudara dari melakukan semua hal yang dapat saudara lakukan untuk Tuhan, tetapi prinsip pelayanan sejati bukanlah jumlah hal-hal yang kita lakukan untuk Tuhan. Prinsip pelayanan sejati adalah ini. Ini adalah – bagaimana saya harus mengatakannya? Haruskah saya katakan, ini adalah menjunjung tinggi Allah, ini adalah membenarkan Allah, ini adalah membuat Allah berdiri benar.

Apa yang Paulus maksudkan ketika ia berkata, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Filipi 1:29)? Bagaimana saya dapat menderita, sesungguhnya, atas nama Kristus? Apakah esensi dari penderitaan? Ya, ini adalah masalah besar dari kitab Ayub. Apa puncak dari kitab Ayub? Di mana Ayub melompat keluar ke dalam kemuliaan? Ketika Allah berkata kepada teman-teman Ayub, “Kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” ‘Hamba-Ku, Ayub, telah melalui tebal dan tipis, mengatakan hal yang benar tentang Aku, telah membenarkan Aku.’ Kadang-kadang tidak terlihat seperti itu ketika Ayub sedang berbicara, tetapi posisinya, untuk membenarkan Allah, untuk membela Allah, adalah pelayanan terbesar yang saudara dan saya dapat berikan.

Paulus membenarkan Allah; itulah inti dari pelayanannya.

Abraham membenarkan Allah. Begitulah cara dia menjadi hamba dan sahabat Allah. Setiap dari mereka membenarkan Allah, dan satu-satunya cara untuk membenarkan Allah adalah melalui iman. “Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Mereka harus percaya bahwa Ia adalah Allah dan bahwa Ia adalah pemberi upah. Mereka harus percaya hari ini ketika bukti-buktinya semua menentang untuk percaya kepada Allah – membenarkan Allah melalui iman. Itu adalah pelayanan yang kita dipanggil untuk berikan kepada Allah.

Setidak-sempurnanya sebagaimana adanya, semoga Tuhan menggunakannya untuk mengkonfirmasikan kita!


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.