Austin-Sparks.net

"Aku akan mendirikan jemaat-Ku"

oleh T. Austin-Sparks

Pertama kali diterbitkan di dalam majalah "A Witness and A Testimony" Jan-Feb 1934, Jilid 12-1. Judul asli: "I Will Build My Church". (Diterjemahkan oleh Silvia Arifin)

Bacaan: 1 Petrus 2:1-12; Matius 16:16-18.

Kami beralih kepada Firman Tuhan dalam Matius 16:16-18; bagian dari pasal itu, yang merupakan dasar dari meditasi kami adalah apa yang ada dalam ayat kedelapan belas: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku,” dan kami akan segera berusaha untuk menjelaskan apa yang kami miliki dalam pandangan. Dan ini adalah, apa yang keluar dari kematian dan kebangkitan Kristus, dan sifat aslinya. Di sini disebut oleh-Nya: “jemaat-Ku,” dan itu mencakup hal-hal yang tidak lebih sedikit dan yang tidak kurang pentingnya daripada Pribadi Kristus, kematian dan kebangkitan Kristus, posisi sorgawi dan kegiatan Kristus, kedatangan dan panggilan dari Roh Kudus, kedatangan kembali Tuhan Yesus, kelahiran baru, peperangan dengan Iblis, dan panggilan orang-orang percaya di zaman yang akan datang. Di sana saudara memiliki katalog besarnya Firman Allah, dan ini semua termasuk dalam kalimat itu: “jemaat-Ku.” Sehingga akan terlihat sekaligus bahwa untuk disibukkan dengan apa yang Tuhan Yesus sebut “jemaat-Ku” adalah untuk disibukkan dengan hal yang tidak kecil – bukan bahwa ini maksud saya untuk berurusan dengan semua hal-hal ini, tetapi saya hanya ingin mendapatkan saudara terkesan sejak awal dengan sangat pentingnya hal ini.

Objek spesifik kita pada saat ini adalah sifat dari apa yang Kristus efekkan dan wujudkan dalam kebangkitan-Nya; dan kami akan mempertimbangkan ini dalam dua cara. Pertama, apa yang kita dapat sebut secara kontemplatif atau objektif, dan kedua, secara introspektif atau subjektif. Yaitu, di satu sisi kita akan melihat pada sifatnya sebagaimana disajikan kepada kita, dan kemudian di sisi lain, kita akan melihat ke dalamnya dan melihat sifat dan isinya yang lebih dalam.

Penjelasan Petrus tentang Apa yang Dikatakan Kristus kepada-nya

Untuk memulai, kemudian, dengan perenungan “jemaat-Ku.” Kita telah membaca sebuah bagian yang mendefinisikan bagi kita apa yang Petrus – yang kepadanya pernyataan itu dibuat secara khususnya – memahaminya akan artinya: “… di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku”; ia tidak memahaminya pada saat itu. Itu cukup jelas dari apa yang ia katakan beberapa menit kemudian itu, tetapi ia benar-benar datang untuk mengerti apa yang dikatakan Tuhan kepadanya, dan ia memberi kita apa yang ia pahami sebagai makna dari kalimat itu: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku,” atau: “… di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Dengarkan kembali definisi dan penjelasan dia sendiri tentang kata-kata itu: “Dan datanglah kepada-Nya” (itu adalah, tentu saja, Tuhan Yesus) “batu yang hidup …” Apa batu karang itu? “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia …” Lihatlah sekali lagi pada Matius 16 dan saudara akan segera menemukan setelah Tuhan Yesus mengatakan kata-kata itu kepada Petrus: “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan … lalu dibunuh …” “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani …” “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” “… pembangunan suatu rumah rohani …” Itulah penjelasan dan definisi Petrus: “… untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Di sana saudara memiliki apa yang dipahami oleh Petrus sebagai makna dari kata-kata Tuhan di Matius 16:16-18.

Ketika kita beralih kepada surat kepada jemaat di Efesus, kita memiliki apa yang Rasul Paulus pahami oleh Roh Kudus sebagai makna dari kata-kata itu. Kita akan meninggalkan itu untuk sementara waktu, kembali lagi kepadanya nanti, sambil mengingat semakin kita melanjutkan, bahwa apa yang ada di hadapan kita adalah sifat, bukan hanya objek-nya, tetapi sifat dari apa yang Kristus wujudkan dalam kebangkitan-Nya.

Kristus adalah Pembangun-nya

Mari kita pelajari bagian ini dalam Matius sedikit lebih dekat lagi, dan melihat apa yang tersirat dalam pernyataan itu. Kita mulai dengan pernyataan pribadi Tuhan Yesus: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” “AKU”; itu membawa dua hal dengan sangat jelas. Salah satunya adalah bahwa Kristus yang membangun Jemaat. Itu diskriminatif dan penting. Kristus membangun Jemaat. Tidak ada seorang pun yang dapat membangun Jemaat. Kristus adalah Pembangun-nya. “Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Tidak ada seorang pun yang dapat menambah jumlah kepada Jemaat. Tidak ada seorang pun yang dapat membentuk Jemaat, tidak ada perkumpulan manusia, tidak ada komite manusia yang dapat membentuk Jemaat. Ini adalah sesuatu yang dilakukan Tuhan, dan jika Jemaat itu kekal, hanya Tuhan yang dapat membangun-nya. Apa yang mungkin dilakukan manusia hanyalah untuk sementara waktu. Hal kedua sehubungan dengan “Aku” itu adalah ini; bahwa mengingat salib yang akan segera terjadi, pernyataan – “Aku akan mendirikan jemaat-Ku” – berarti bahwa Kristus yang bangkit akan mendirikan jemaat-Nya. Ia melihat terus menyeberang, kasih karunia, Ia melihat terus menembus kematian, Ia melihat ke sisi lain Yerusalem, penyaliban-Nya dan semua yang akan terjadi di sana, Ia melihat melalui itu, melampaui itu dan berkata: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Ini adalah keyakinan dan kepastian mutlak bahwa Ia akan melaluinya, bahwa Ia akan keluar di sisi lain; dan Ia akan benar-benar berada di sisi lain Kalvari dan kematian dan semua yang diartikan dari itu sama seperti Ia ada di sini dan sekarang di sisi ini dari semua itu; dan sekarang sebagai Seorang yang telah melewatinya dalam iman dan keyakinan dan kepastian, Ia berkata: “Aku akan mendirikan.” Itulah iman yang dengannya Tuhan Yesus menghadapi salib. Ini merupakan sebuah tantangan. Ini seolah-olah Ia berkata: “Biarkan Pihak Tua-Tua, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, Imam-Imam Kepala, manusia dan iblis, dan semua kuasa kematian rohani melakukan pekerjaan mereka, dan pekerjaan yang terbaiknya mereka. Aku akan mendirikan jemaat-Ku; Aku menghadapi ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, Pihak Tua-Tua, Imam-Imam Kepala, manusia, iblis dan maut, dan Aku akan mendirikan Jemaat-Ku meskipun mereka semua!” “Aku” itu adalah “Aku” yang luar biasa karena Ia datang ke sana dengan salib yang jelas terlihat, sudah dekat.

Salib Penting untuk Jemaat

Sekarang hal itu membawa kita ke tiga hal lainnya. Salib dan kebangkitan berarti, pertama-tama, bahwa salib mencapai sesuatu. Saudara melihatnya dengan cara ini dan saudara akan melihat apa yang saya maksudkan. Di sini Tuhan Yesus berdiri dengan semua itu dalam pandangan, namun dengan sebuah objek yang menjadi tujuan kedatangan-Nya, objek yang telah ada di hati Bapa, pemikiran dan niat Bapa dari kekekalan; objek yang merupakan objek yang mendominasi dari Keberadaan-Nya itu sendiri: “Jemaat-Ku”; “Aku akan mendirikan,” namun sebelum Ia dapat mendirikan Jemaat itu, harus ada hal ini, kematian ini, salib ini, dan kebangkitan ini. Ini bukan hanya beberapa peristiwa dalam hidup-Nya, ini bukan hanya sesuatu yang datang dalam urutan dan kemajuan dan program hal-hal; ini adalah sesuatu yang merupakan dasar bagi objek itu, yang tanpanya objek itu tidak dapat menjadi, sebab salib ini dan kebangkitan ini harus menjadi adegan dan kesempatan untuk mencapai sesuatu, yang terlepas dari pencapaian itu, Jemaat tidak mungkin terjadi. Sehingga salib dan kebangkitan Tuhan Yesus mencapai sesuatu. Mereka adalah bagian dari sebuah skema; urutan hal-hal yang diatur dengan pasti, di mana mereka mengambil tempat yang sangat vital dan penting.

Saya harus mengingatkan saudara bahwa kami sedang berupaya untuk melihat sifat dari hal yang dihasilkan dari kebangkitan-Nya, dan oleh karena itu, ini penting untuk melihat bahwa karakter itu, sifat itu adalah hasil dari kematian dan kebangkitan-Nya: bahwa kematian dan kebangkitan, salib Tuhan Yesus, memberikan karakter kepada Jemaat. Dan itulah sebabnya mereka memenuhi sebuah tujuan dan merupakan bagian dari keseluruhan rancangannya, sebab Jemaat itu tidak dapat hidup tanpa mereka, karena Jemaat memperoleh kualitasnya dari mereka. Saudara melihat Tuhan Yesus, meskipun Ia telah menetap pada objek itu, tidak akan pernah bisa mewujudkannya dengan melompat dari Kaisarea Filipi ke kebangkitan; yaitu, meninggalkan salib di luar. Salib itu penting untuk tujuan-Nya karena itu harus menghasilkan fitur-fitur tertentu yang akan membentuk Jemaat. Hal-hal itu akan kita lihat nanti.

Kedua, kebangkitan Tuhan Yesus berarti dasar baru dengan alasan kondisi baru. Sesuatu telah tertinggal dalam kematian. Beberapa seluruh alam dan tata tertib hal-hal telah diberhentikan, disingkirkan, dan dasar yang sama sekali baru diambil dalam kebangkitan, dan dasar baru itu mewakili kondisi baru, suatu kondisi yang sama sekali baru; dan ini adalah di atas dasar itulah Jemaat didirikan.

Kemudian, yang ketiga, dunia dikesampingkan. Di dalam salib, dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, dunia dikesampingkan, ditinggalkan. Oh, tekanan yang Tuhan sendiri berikan pada kebenaran itu, sebagaimana yang dibawa ke hadapan kita oleh Yohanes di dalam Injilnya 16:16-18, 20-23. “Pada hari itu” – sekarang lanjutkan ke pasal 17:6 dan Ia memukul nada itu terus-menerus di pasal 17: “Aku tidak ada lagi di dalam dunia … Aku datang kepada-Mu.” “Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Dunia ditinggalkan. Dunia dikesampingkan, dasar baru diambil, dan atas dasar itu Jemaat didirikan. Rasul Paulus, menulis kepada jemaat di Galatia, menjelaskan makna dari itu sejauh mana pengalaman rohani bersangkutan: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Dan ketika saudara dan saya bersaksi tentang persatuan kita dengan Tuhan Yesus dalam kematian dan penguburan serta kebangkitan-Nya di perairan pembaptisan, kita secara rohani menerima posisi di mana dunia dikesampingkan dan ditinggalkan, dan kita mengambil dasar baru; dan itu adalah dasar yang di atasnya Jemaat didirikan. Singkatnya, Jemaat didirikan di atas dasar di mana dunia tidak memiliki tempat. Itu ada di luar dunia. Dengan mengatakan itu, kita, tentu saja, mengatakan sesuatu yang sangat dikenal oleh kebanyakan orang, tetapi sesuatu yang semakin penting di zaman kita. Sifat dari apa yang muncul dalam kebangkitan Tuhan Yesus adalah bahwa ia telah meninggalkan dunia di belakang, dan bahwa itu berada di luar dunia, dalam arti yang sama seperti di mana Tuhan Yesus menggunakan kata-kata di dalam doa-Nya: “Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” “… sama seperti Aku …” Saudara tidak dapat, sekarang, mengaitkan Tuhan Yesus dengan dunia ini; saudara tidak bisa! Dan dengan cara yang persis sama, saudara tidak dapat mengaitkan Jemaat-Nya dengan dunia, dan jemaat yang terkait dengan dunia, bukanlah Jemaat-Nya.

Tujuan Kekal

Kedua, “… akan mendirikan.” Kita telah melihat sedikit implikasi dari kata ganti pribadi “Aku.” Sekarang yang kedua, “… akan mendirikan,” dan untuk tujuan kita sekarang, kita mencatat dua hal. Ini berarti bahwa Kristus yang Bangkit akan ditandai dengan tujuan. “Aku akan mendirikan …”; ditandai oleh tujuan. Saya tidak bermaksud sekedar tekad untuk melakukan sesuatu; tetapi ditandai dengan roh, suatu kuasa tujuan. Saya bertanya-tanya apakah saudara telah mengenali ciri yang datang secara spontan ke dalam kehidupan setiap orang yang menjadi secara vital tergabung dengan Tuhan yang Bangkit itu, bahwa hidup itu segera mengambil roh bertujuan. Jika itu tidak pernah memiliki tujuan sebelumnya, sekarang itu memilikinya. Jika itu adalah hal yang mengembara, tidak pasti sebelumnya, tanpa objek atau tujuan atau arah, satu hal yang menandai hidup itu sekarang adalah suatu rasa bertujuan, suatu rasa ber-objek, suatu kepastian akan arah, ketenangan; dan meskipun sekarang, semua yang dimaksudkan dari itu, masih belum dapat dipahami, ada suatu perasaan yang telah datang, dan perasaan itu telah muncul untuk kekekalan, hidup itu telah datang ke dalam kekekalan, dan melalui persatuannya dengan Dia, telah mencapai tepat ke masa sebelumnya kekal, ke dalam nasihat Ketuhanan, dan sekarang telah menerima karakternya dari nasihat kekal itu tentang tujuan kekal Allah. Semakin hidup itu terus berjalan bersama Allah, hidup itu akan semakin banyak bergerak ke tempat dan kondisi yang diwakili oleh kata-kata Rasul Paulus: “Ini yang kulakukan …” Ini adalah suatu rasa bertujuan. Ini adalah tujuan dari Tuhan yang Bangkit. Pernyataan-Nya ini mengatakan kepada saya, ketika saya merenungkannya: “Aku menetap pada Jemaat-Ku dan Aku memberikan diri-Ku sepenuhnya menuju perwujudannya; pembangunannya dan penyempurnaannya mendominasi dan mengatur segala pikiran-Ku, dan menarik keluar segala sumber daya-Ku. Aku sibuk dengan hal ini; ini adalah tujuan-Ku.” Dan saudara tahu bahwa ketika saudara datang ke dalam surat Efesus bahwa itulah yang saudara datangi sekaligus, “… telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus … dan telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia …” Saudara berada di alam tujuan Allah mengenai Kristus, dari kekekalan. “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Suatu suasana, suatu roh, suatu rasa bertujuan.

Dan, teman-teman yang terkasihi, ada, saya pikir, banyak ruang dalam banyak anak-anak Allah, untuk roh itu, perasaan itu, kesadaran akan tujuan yang mendominasi itu, sehingga mereka akan menjadi terserap, asyik, didominasi oleh satu hal, akhir yang Kristus miliki dalam pandangan, dan terbakar dengan tujuan-Nya, yang menyisakan ruang bagi begitu banyak pekerjaan Iblis yang menyebarkan, melemahkan, dan melumpuhkan. Tidak ada pertahanan yang lebih besar melawan Iblis selain seluruh diri saudara yang dikuasai oleh satu objek. Kita meninggalkan terlalu banyak ruang baginya untuk masuk ke dalam dengan menjadi seperti Daud, di tempat tidurnya ketika saatnya tiba untuk para raja-raja untuk pergi berperang. Iblis bermain malapetaka dengan Daud pada malam itu dan Daud dilemahkan sampai akhir hayatnya, dan tidak pernah pulih, sebab pada saat itu ia tidak sibuk dengan urusan kehidupan yang sebenarnya. Tuhan ingin kita bersatu dengan-Nya dalam pengertian ini, bahwa kita memiliki ciri-ciri Dia yang menandai hidup kita dengan jelas: “Ini yang aku lakukan”; suatu perasaan akan tujuan Ilahi yang memakan kita; semangat Rumah-Nya. “Aku akan mendirikan Jemaat-Ku” adalah sebuah pernyataan yang disertai dengan roh Satu yang memiliki satu objek yang mencakup-segalanya dan yang mengatur dalam pandangan, dan ketika saudara datang ke Perjanjian Baru nanti, saudara menemukan bahwa itu adalah hal yang menandai para rasul dan orang-orang percaya.

Bacalah surat-surat Tesalonika lagi dan saudara akan melihat bahwa itu adalah roh orang-orang percaya pada umumnya di sana. Dan bacalah surat-surat para Rasul itu sendiri dari sudut pandang para Rasul, dan saudara akan menemukan bahwa hati mereka dimakan dengan objek yang satu ini. Dengarlah Paulus: “… untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Itu adalah sesuatu yang telah menarik keluar seluruh pribadinya. Oh, kita harus seratus persen pada tujuan Ilahi, mencurahkan diri kita ke dalamnya tanpa cadangan. Itu adalah penyatuan dengan Tuhan yang Bangkit. Itu harus menjadi sifat dari hal yang muncul dalam kebangkitan-Nya. Itu adalah sesuatu yang diatur oleh satu objek – tujuan dan tindakan. “Aku akan mendirikan Jemaat-Ku.” Kita harus ingat bahwa Tuhan Yesus, dari hari kebangkitan-Nya sampai sekarang sedang beraksi. Ada perasaan di mana Ia sudah duduk. Perasaan itu adalah bahwa Ia telah menyelesaikan semua pekerjaan yang diperlukan untuk mengamankan penyempurnaan Jemaat-Nya. Ia sekarang bekerja oleh Roh Kudus dalam hasil pekerjaan yang telah diselesaikan itu. Ia masih bekerja. “Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara …” adalah satu gambaran tentang Dia yang sedang beraksi. “Aku akan mendirikan …” Ia sedang membangun, Ia beraksi, dan Ia akan memiliki semua yang bersatu dengan-Nya, tidak hanya ditandai oleh suatu rasa bertujuan, tetapi yang pastinya dalam tindakan di bawah pengertian itu. Ini mungkin saja untuk memiliki suatu tujuan, dan tujuan itu terletak pada hari esok yang tidak pernah datang. Ketika kita sedikit lebih berkualitas, ketika hal-hal tertentu telah mengambil bentuk tertentu, atau telah terjadi – akan selalu ada masa depan angan-angan yang tidak akan pernah kita raih, tetapi ketika kita akan melakukan apa yang ingin kita lakukan; tetapi kita tidak melakukannya.

Tuhan Yesus tidak hanya memiliki sebuah objek, tetapi Ia secara aktif terlibat pada objek-Nya, dan kita adalah buktinya. Persatuan dengan-Nya berarti bahwa kita sedang beraksi, pastinya diregangkan dalam tindakan di bawah tujuan yang menguasai dari kekekalan; sebab unsur kekalnya muncul dengan Tuhan yang Bangkit. Unsur sementara telah berlalu dalam kematian-Nya. “Aku akan mendirikan Jemaat-Ku …” Maka kita harus diperintah oleh suatu rasa bertujuan dalam rezim Roh Kudus yang aktif ini. Tentu saja, sifat Jemaat yang akan dibangun-Nya telah terlihat dalam kata-kata Petrus: “Rumah rohani.” Ini adalah hal yang rohani.

Jemaat adalah Milik Kristus

“Jemaat-Ku.” Di sana saudara memiliki implikasi hubungan dan kepemilikan. Tuhan Yesus mendirikan Jemaat-Nya, yang secara khusus adalah milik-Nya dalam pengertian bahwa Ia telah membelinya, Ia telah menjadikannya milik-Nya dengan hak pilihan, penciptaan dan penebusan kekal. Ini adalah milik-Nya. Ini milik-Nya. Dan di sana sekali lagi, kita memiliki kepentingan untuk memperhitungkan fakta bahwa hak-hak berdaulat di dalam dan atas Jemaat adalah milik Tuhan Yesus dan tidak dimiliki oleh orang lain. Ini tidak diberikan kepada manusia atau orang-orang untuk memerintah atas warisan Allah; untuk memiliki pemerintahan tertinggi atas Jemaat. Ini adalah Jemaat-Nya, dan Ia adalah Tuhan atas Jemaat, dan Jemaat yang Ia dirikan adalah yang mewakili Kekuasaan Kepemimpinan Tuhan Yesus yang absolut, untuk memerintah, untuk mengatur, untuk mengarahkan, mengendalikan, untuk memiliki kata pertama dan terakhir, dan setiap kata-kata di antaranya. Di situlah Kristus adalah Tuhan. Itu sederhana; mungkin terlalu sederhana dan terlalu dikenal, tetapi kita sedang mengerjakan menuju objek kita.

Kemenangan Jemaat atas Maut

“… alam maut tidak akan menguasainya.” Ungkapan itu dijelaskan dalam Perjanjian Lama untuk berarti “rumah maut.” “Rumah maut tidak akan menguasainya.” Dalam Kisah Para Rasul 2, saudara memiliki penjelasan tentang hal itu: “sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan,” pernyataan pertama. Yang kedua, “… tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.” “Dipegang,” dalam genggaman, penguasaan, kuasa maut; rumah maut. Kata-kata: “tidak akan menguasai” secara lebih harfiah adalah: “Tidak akan memiliki kekuatan penguasaan.” “Rumah maut tidak akan memiliki kekuatan penguasaan.” Itu terkait dengan Tuhan Yesus, dan itu berhubungan dengan semua orang dalam persatuan dengan-Nya sebagai bagian dari Jemaat-Nya. Ia pergi ke rumah maut; rumah maut menutup pada-Nya. Kita harus ingat bahwa kematian selalu merupakan suatu hal antagonisme positif. Ada banyak romansa dan sentimentalisme tentang keramahan kematian. Kematian selalu merupakan Musuh dalam Firman Allah dan selalu berdiri dalam oposisi yang positif terhadap maksud Allah, dengan tujuan Allah. Ini adalah kebalikannya, dan yang secara aktifnya demikian, dari apa yang Allah maksudkan secara kekal, dan akhirnya kematian sebagai Musuh terakhir akan dihancurkan.

Ini diperlukan bagi Tuhan Yesus untuk pergi ke rumah maut, mewakili mereka semua yang, karena kejatuhan, telah tertutup di dalam rumah maut. Tetapi Ia masuk ke dalam, dalam kuasa dari sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain siapa pun yang pernah masuk ke sana, dan sementara rumah maut menutup-Nya sebagai yang mewakili manusia dalam dosa, ia menemukan bahwa ia telah menutup sesuatu yang lain, yang lebih daripada tuannya, dan: “Ia mematahkan palang-palang besi,” dan “Dari kubur Ia bangkit,” dan maut, rumah maut, tidak bisa lagi menahannya. “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” Dalam kebajikan itu, meskipun rumah maut dapat menutup pada saudara dan saya, jika Tuhan menunda, gerbang-gerbang rumah maut itu dapat menutup pada saudara dan saya, jika Tuhan menunda, gerbang-gerbang rumah maut itu tidak akan memiliki kuasa untuk mencegah kita berada di sana di dalam Jemaat yang sempurna, di dalam bangunan Kristus yang sempurna. Rumah maut tidak akan memiliki kekuatan untuk menahan saudara dan saya ketika sangkalala itu akan berbunyi. Ia memiliki kuncinya, yaitu, kuasa, atas rumah maut, dan maut tidak akan dapat menggagalkan realisasi niat-Nya, tujuan-Nya. Gerbang Maut, rumah maut, tidak akan menang, tidak akan memiliki kekuatan untuk mencegah. Itu berlaku untuk Tuhan Yesus, dan itu berlaku untuk orang-orang kudus.

Dan sekarang untuk menutup, untuk saat ini; implikasi dari pernyataan Tuhan Yesus ini mengungkapkan kesatuan Kristus dan Jemaat-Nya. “Aku akan mendirikan Jemaat-Ku; dan alam maut tidak akan menguasainya” berarti, jika itu berartikan apa pun, bahwa kebangkitan Tuhan Yesus sangat penting bagi hidup dan keberadaan Jemaat itu sendiri. Untuk mencegah Dia dari bangkit adalah untuk mencegah Dia dari memiliki keberadaan-Nya. Jika Kristus bangkit, maka itu adalah untuk realisasi Jemaat-Nya, sehingga Ia dan Dia adalah satu karena kemenangan besar atas maut. Dan itu, saya percaya, adalah sebabnya, di atas segala hal lainnya, telah ada maut yang telah ditetapkan selama berabad-abad terhadap kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Mengapa, segera saudara sampai pada kesaksian tentang kehidupan Kristus yang Bangkit, saudara menjadi objek dan sasaran dari semua serangan neraka; dan satu hal yang membuat saudara menjadi sangat sadar daripada yang lain adalah dari roh dan kuasa maut, maut bekerja sebagai kekuatan melawan roh, jiwa, pikiran, tubuh. Mengapa? Sebab kebangkitan Tuhan Yesus adalah hal terbesar dalam Alkitab, dan pada kebangkitan Tuhan Yesus, semua yang ada dalam Alkitab tergantung.

Tujuan Allah dari kekekalan, sebelum satu halaman dari Alkitab dituliskan, tergantung pada kebangkitan Tuhan Yesus. Ini adalah hal yang sentral dan tertinggi di dalam sejarah zaman sejak manusia jatuh. Dan kesaksian itu untuk memiliki ekspresi dalam kehidupan individu, dan lebih lagi, dalam suatu perkumpulan, Jemaat, oleh karena itu, adalah satu-satunya hal tertinggi yang membangkitkan neraka sampai ke kedalamannya. Neraka tidak peduli dengan sistem pengajaran kita, apakah itu benar atau apakah itu salah; tetapi neraka benar-benar peduli tentang kehidupan kita dalam kuasa kebangkitan-Nya. Tidak menjadi masalah bagi Musuh, betapa akuratnya kita dalam penafsiran Alkitab kita, tetapi Musuh, dengan sekuat tenaganya, melawan ekpresi Alkitab kita di dalam suatu kehidupan yang menang atas maut. Untuk itulah, Jemaat telah dibentuk. Itulah yang menjadi objek Jemaat di bumi ini, untuk menunjukkan Kristus dalam kehidupan yang telah Bangkit dan dalam kuasa yang telah Bangkit. Seringkali pengajaran dapat menjadi hal yang menutupi dan menyelimuti dan meredam serta mematikan hidup itu.

Saudara dan saya, yang terkasihi, harus sangat berhati-hati bahwa kita tidak akan menjadi begitu tertarik pada ajaran dan kebenaran Kristen sehingga itu menjadi hal yang paling penting bagi kita. Apa yang saudara dan saya harus sibuk dengan, lebih dari apa pun yang lainnya, adalah menghidupi suatu kehidupan yang menang atas maut. Itu adalah hal yang jauh lebih sulit daripada mempelajari doktrin Kristen; ini adalah pertempuran zaman. Sifat dari apa yang muncul dengan Tuhan yang Bangkit adalah bahwa itu adalah ekspresi hidup dari kenyataan bahwa di dalam Dia sampai penuh, dan di dalam Dia pada awalnya dan secara progresif, gerbang Maut, rumah maut tidak menang dan tidak dapat menang. Kita dipanggil untuk itu. Tuhan menuntun kita ke dalam sifat dari apa yang Ia sebut “Jemaat-Ku.”


Sesuai dengan keinginan T. Austin-Sparks bahwa apa yang telah diterima secara bebas seharusnya diberikan secara bebas, karya tulisannya tidak memiliki hak cipta. Oleh karena itu, kami meminta jika Anda memilih untuk berbagi dengan orang lain, mohon Anda menghargai keinginannya dan memberikan semua ini secara bebas - tanpa d'ubah, tanpa biaya, bebas dari hak cipta dan dengan menyertakan pernyataan ini.